Pemerintah menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi dampak memanasnya konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat terhadap perekonomian global maupun domestik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah memperkirakan konflik tersebut dapat berlangsung dalam berbagai kemungkinan durasi, sehingga langkah antisipasi perlu disiapkan sejak dini.
“Sampai kapannya perang bisa tiga bulan, bisa enam bulan, bisa lebih. Jadi kita masing-masing sudah ada skenario,” ujar Airlangga kepada awak media di Menara Batavia, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Airlangga menjelaskan, Indonesia sebelumnya pernah menghadapi situasi serupa saat perang Rusia dan Ukraina pecah, yang memicu lonjakan harga minyak dan sejumlah komoditas global.
Menurutnya, kenaikan harga komoditas memiliki dampak ganda bagi Indonesia. Di satu sisi, pemerintah perlu menjaga stabilitas subsidi energi agar tidak membebani masyarakat. Airlangga menyatakan, melalui APBN, subsidi tetap dilanjutkan untuk menjaga daya beli.
“Pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi kita akan lanjutkan dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga,” ungkapnya.
Di sisi lain, kenaikan harga komoditas global juga berpotensi meningkatkan penerimaan negara dari sektor terkait, khususnya melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Meski demikian, Airlangga menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampak konflik tersebut terhadap perekonomian Indonesia. “Kita tentu melihat situasinya masih too early to call, masih terlalu pagi,” ujarnya.

