Perekonomian pada kuartal I/2026 dinilai menghadapi banyak tantangan eksternal, namun tetap mencatat hasil positif. Wakil Menteri Keuangan Nguyen Duc Chi menyebut data Kantor Statistik Umum menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama 2026 diperkirakan sekitar 7,83%. Angka ini lebih rendah dari skenario awal tahun sekitar 9,1%, tetapi lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu dan dianggap menggembirakan di tengah gejolak ekonomi global.
Menurut Nguyen Duc Chi, capaian tersebut terkait langkah pemerintah sejak awal 2026 melalui Resolusi 01 yang menetapkan tugas dan solusi utama pembangunan sosial-ekonomi. Berangkat dari kerangka itu, kementerian, sektor, dan daerah menjalankan berbagai langkah manajemen untuk menjaga stabilitas makroekonomi, mengendalikan risiko, dan mempertahankan momentum pertumbuhan. Dalam konteks terbaru, ia menekankan perlunya skenario pengelolaan yang lebih fleksibel. Kementerian Keuangan disebut sedang menyelesaikan skenario baru agar target pertumbuhan dua digit tetap terjaga.
Nguyen Duc Chi juga menempatkan kebijakan fiskal sebagai salah satu instrumen kunci untuk menopang pertumbuhan ke depan. Kementerian Keuangan, kata dia, akan melanjutkan kajian dan usulan solusi fiskal untuk mendukung perekonomian, sekaligus mendorong langkah peningkatan pendapatan, pengurangan pengeluaran, serta mobilisasi sumber daya bagi investasi pembangunan. Diversifikasi kanal penghimpunan modal, baik domestik maupun internasional, turut dipertimbangkan untuk menjamin ketersediaan sumber daya pertumbuhan.
Sejumlah langkah lain disebut berjalan paralel, termasuk mendorong percepatan pencairan investasi publik, mengatasi hambatan lahan dan prosedur, serta mempercepat proyek infrastruktur dan produksi. Kementerian Keuangan juga menargetkan penguatan daya tarik investasi asing, penyempurnaan mekanisme pemanfaatan modal FDI agar lebih efisien, serta pengembangan pasar baru, termasuk pasar karbon.
Dari sisi penerimaan, Nguyen Duc Chi menegaskan fondasi pertumbuhan ekonomi penting bagi keberlanjutan pendapatan negara. Saat ekonomi stabil dan tumbuh tinggi, pendapatan domestik dinilai lebih berkelanjutan. Sektor keuangan, menurutnya, akan menerapkan prinsip “pemungutan yang benar, penuh, dan tepat waktu”, disertai penguatan pengawasan dan inspeksi untuk mencegah kebocoran penerimaan serta menindak pelanggaran.
Sementara itu, Wakil Direktur Departemen Anggaran Negara Kementerian Keuangan, Dinh Xuan Ha, menyatakan kebijakan fiskal pada periode sebelumnya telah dijalankan secara fleksibel dan cepat untuk merespons guncangan eksternal, terutama fluktuasi harga energi dan pasar internasional. Instrumen seperti penyesuaian pajak dan penggunaan dana stabilisasi harga bahan bakar disebut membantu mengurangi tekanan terhadap perekonomian dan kehidupan masyarakat.
Menghadapi situasi baru, Ha mengatakan Kementerian Keuangan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk mempercepat penyusunan rencana operasional menyeluruh yang mengombinasikan kebijakan fiskal dan moneter, dengan tujuan menjaga pertumbuhan dua digit pada periode mendatang.
Ha juga memaparkan kinerja anggaran pada kuartal I/2026 yang dinilai mencatat sejumlah hasil positif. Pendapatan anggaran negara diperkirakan melampaui 829.000 miliar VND, setara 32,8% dari proyeksi dan naik 11,4% dibanding periode yang sama tahun lalu. Adapun belanja anggaran diperkirakan sekitar 530.000 miliar VND, dengan peningkatan signifikan terutama pada belanja investasi pembangunan. Kondisi ini disebut menjadi fondasi untuk melanjutkan kebijakan pendukung pertumbuhan pada kuartal-kuartal berikutnya.
Namun, risiko global diperkirakan masih tinggi, mulai dari konflik geopolitik hingga fluktuasi pasar keuangan dan energi. Situasi tersebut dinilai menuntut pengelolaan yang lebih proaktif, fleksibel, serta koordinasi kebijakan yang lebih erat.
Dalam usulannya kepada otoritas berwenang, Kementerian Keuangan menyampaikan kelompok solusi utama, di antaranya: mengimplementasikan arahan dalam kesimpulan Konferensi Komite Sentral No. 2; melanjutkan kajian kebijakan fiskal untuk mendukung perekonomian dan pertumbuhan, termasuk penanganan kebocoran pendapatan, transfer pricing, dan penghindaran pajak; menerapkan pengelolaan suku bunga yang fleksibel dalam penerbitan obligasi pemerintah, meneliti opsi mobilisasi pinjaman baru, serta mendiversifikasi kanal pendanaan.
Solusi lain yang diusulkan mencakup penghematan 10% belanja rutin kementerian, lembaga pusat, dan daerah untuk menjalankan tugas kesejahteraan sosial; fokus percepatan pencairan investasi publik, terutama proyek kunci nasional; usulan kebijakan unggul untuk menarik investasi internasional dan mengembangkan berbagai jenis dana investasi; serta rencana penerapan bursa mata uang kripto dan pengembangan pasar sertifikat karbon guna memobilisasi sumber daya tambahan bagi pertumbuhan.
Dari sisi statistik, Wakil Direktur Kantor Statistik Umum Do Thi Ngoc menilai pertumbuhan 7,83% pada kuartal I/2026 merupakan hasil upaya lintas sektor dan tingkat pemerintahan di tengah fluktuasi internasional. Ia menyebut pendorong pertumbuhan pada kuartal pertama masih bertumpu pada faktor tradisional seperti ekspor, investasi, dan konsumsi domestik. Adapun pendorong baru—ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi—telah berkontribusi, tetapi dampaknya dinilai belum jelas dan memerlukan waktu.
Do Thi Ngoc menambahkan, untuk memenuhi target pertumbuhan tahunan, kuartal-kuartal berikutnya perlu mencatat pertumbuhan di atas 10%. Rinciannya, pertumbuhan kuartal kedua diperkirakan perlu mencapai 10,5%, kuartal ketiga 10,6%, dan kuartal keempat 10,44%. Dalam perhitungan tersebut, pendorong utama pada tiga kuartal tersisa diproyeksikan berasal dari peningkatan investasi publik. Konsumsi domestik diperkirakan membaik seiring kebijakan seperti reformasi upah dan langkah merangsang daya beli. Kebijakan fiskal dan moneter yang fleksibel untuk mendukung manufaktur dan pertumbuhan juga dinilai penting, di samping upaya memaksimalkan industri ekspor dan memanfaatkan keuntungan perjanjian perdagangan bebas (FTA).
Ekonom Pham Ngoc Lang, Wakil Direktur Institut Intelijen Bisnis, menilai pertumbuhan 7,83% pada kuartal I/2026 menjadi fondasi yang baik, namun untuk menembus dua digit dibutuhkan “terobosan ganda” pada kebijakan dan produktivitas. Ia menyoroti pentingnya pengelolaan kebijakan moneter yang mampu menjaga suku bunga mendukung pertumbuhan sekaligus fleksibel meredam tekanan inflasi sejak dini, serta mengarahkan aliran modal ke sektor produksi riil alih-alih spekulasi aset.
Lang juga menekankan percepatan investasi publik sebagai “modal awal” untuk proyek infrastruktur strategis seperti logistik dan energi bersih, serta reformasi kelembagaan guna mengurangi hambatan prosedural yang dinilai dapat menahan pelepasan sumber daya. Selain itu, ia menilai keamanan energi menjadi prasyarat pertumbuhan tinggi dan menyoroti percepatan penerapan mekanisme DPPA (Direct Power Purchase Agreement) agar perusahaan besar dapat membeli listrik terbarukan secara langsung, sekaligus mengurangi tekanan investasi pada EVN dan menjaga keandalan pasokan listrik bagi industri.
Menurut Lang, pencapaian pertumbuhan dua digit memerlukan koordinasi erat antara negara sebagai fasilitator kebijakan, bank sebagai penopang arus pembiayaan, dan dunia usaha sebagai pelaksana pencipta nilai. Ia juga mengusulkan pendekatan pembiayaan yang tidak semata bergantung pada agunan properti, melainkan berbasis arus kas dan pesanan (factoring), sehingga akses modal bagi pelaku usaha—terutama yang inovatif—dapat lebih terbuka.