Memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran berbagai pihak. Pengamat geopolitik dari Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI), Surya Wiranto, menilai eskalasi konflik kedua negara bukan hanya mengancam stabilitas regional, tetapi juga berisiko mengguncang ekonomi global.
“Diplomasi intensif dibutuhkan segera untuk meredakan ketegangan sebelum mencapai titik kritis,” kata Surya dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 18 Januari 2026.
Menurut Surya, peningkatan tensi terlihat dari langkah persiapan militer dan retorika perang yang kian keras dari kedua belah pihak. Ia menyebut terdapat kabar bahwa AS mulai meninjau opsi-opsi strategis untuk melakukan tindakan terhadap Iran, yang kemungkinan diawali dengan pemberian sanksi hingga aksi militer langsung.
Di sisi lain, pejabat senior militer AS disebut mengonfirmasi bahwa pasukan membutuhkan waktu tambahan untuk konsolidasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan memperkuat pertahanan, sebagai antisipasi terhadap potensi serangan balasan dari Iran.
Iran juga mengeluarkan peringatan keras. Melalui Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, Teheran menyatakan bahwa serangan AS akan dibalas dengan menargetkan pangkalan militer Amerika di kawasan serta wilayah Israel, yang mereka sebut sebagai “target sah”. Pernyataan tersebut dinilai ikut meningkatkan tensi di Timur Tengah.
Israel, sebagai sekutu utama AS, dilaporkan telah meningkatkan status siaga militernya, meski belum ada indikasi langsung akan melakukan intervensi.
Surya menilai situasi saat ini menciptakan dinamika yang sangat volatil. Ia memperingatkan bahwa kesalahan perhitungan atau provokasi kecil dapat memicu konflik terbuka yang lebih luas.

