PT Pertamina mengonfirmasi kepemilikan dan pengelolaan aset hulu minyak dan gas bumi (migas) di sejumlah kawasan luar negeri. Aset-aset tersebut tersebar di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara, dengan Aljazair disebut sebagai salah satu lokasi kunci operasi internasional perusahaan.
Manager Relations PT Pertamina Internasional EP (PIEP) Dhaneswari Retnowardhani menjelaskan, pengelolaan aset luar negeri dilakukan melalui Subholding Upstream sebagai bagian dari strategi ekspansi dan penguatan portofolio internasional.
“Pertamina melalui Subholding Upstream mengelola sejumlah aset hulu migas di berbagai kawasan internasional, antara lain di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara,” ujar Dhaneswari saat dihubungi, Kamis (25/12/2025).
Di Afrika, Pertamina memusatkan perhatian pada Aljazair. Operasi di negara tersebut dijalankan melalui Pertamina Algeria EP (PAEP) yang berada di bawah koordinasi PIEP. Pertamina terlibat dalam pengelolaan Production Sharing Contract (PSC) Blok 405A bersama perusahaan migas nasional Aljazair, Sonatrach.
Menurut Dhaneswari, Blok 405A telah berproduksi lebih dari dua dekade dan menjadi salah satu aset internasional terlama yang dimiliki Pertamina. “Di Aljazair, Pertamina berpartisipasi dalam PSC Blok 405A, yang telah beroperasi lebih dari dua dekade bersama mitra nasional Aljazair, Sonatrach,” katanya.
Keberlanjutan pengelolaan Blok 405A disebut memperoleh kepastian jangka panjang setelah pemerintah Aljazair menyetujui perpanjangan kontrak PSC selama 25 tahun ke depan. Dhaneswari menyatakan perpanjangan ini memperpanjang masa operasi Pertamina di negara Afrika Utara tersebut sekaligus menjaga kesinambungan produksi minyak.
“Perpanjangan kontrak PSC Blok 405A selama 25 tahun ke depan menjadi bukti kepercayaan pemerintah Aljazair terhadap kapabilitas Pertamina,” ujar Dhaneswari. Ia menambahkan, perpanjangan kontrak memastikan produksi minyak dari Blok 405A tetap berlanjut dan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pasokan energi Indonesia.
Blok 405A juga baru-baru ini mencatat pengapalan perdana minyak mentah ke Indonesia pada Desember 2025. Pengapalan tersebut disebut menjadi produksi pertama setelah perpanjangan kontrak PSC dan menandai fase lanjutan operasi Pertamina di Aljazair.
Dhaneswari menuturkan, kerja sama Pertamina dan Sonatrach telah terjalin sejak awal 2000-an dan kini berada dalam kerangka kontrak jangka panjang yang memberikan kepastian hukum dan operasional bagi kedua pihak. Dengan portofolio aset yang tersebar di berbagai kawasan, Pertamina menempatkan Aljazair sebagai salah satu simpul penting operasi hulu migas di luar negeri untuk menjaga keberlanjutan produksi serta memperkuat pasokan energi ke dalam negeri.

