BERITA TERKINI
PKMS Soroti Dampak Konflik Iran-AS-Israel terhadap Ekonomi Global, Emas Dinilai Jadi Aset Aman

PKMS Soroti Dampak Konflik Iran-AS-Israel terhadap Ekonomi Global, Emas Dinilai Jadi Aset Aman

Eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada awal Maret 2026 dikhawatirkan berdampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi dunia. Salah satu gangguan utama yang diprediksi muncul adalah potensi penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta sebagian besar Liquefied Natural Gas (LNG) internasional.

Selain risiko pada pasokan energi, ketidakpastian geopolitik juga dinilai dapat memicu volatilitas pasar keuangan. Situasi tersebut berpotensi menaikkan premi risiko global dan mendorong investor beralih ke aset yang dianggap aman (safe haven), sehingga gejolak pasar bisa semakin sulit terkendali.

Isu ini dibahas oleh anggota Dewan Pakar Pusat Kajian Manajemen Strategik (PKMS) menjelang acara buka puasa bersama di sekretariat PKMS, Kota Bekasi, Rabu (6/3/26) petang. Sejumlah tokoh dan pakar hadir dalam diskusi itu, antara lain Drs. Imam Trikarsohadi, MSi, Dr. Abdul Khoir, Dr. Haris Budiono, Drs. Toto Subekti, MSi, Drs. Cucu P, MSi, Dr. Titi, Hans Muntahar, Ir. Sunu Pramono Budi, MM, Chotim Wibowo, serta pakar lainnya.

Founder PKMS, H. Siswadi Abdul Rochim, menyampaikan pandangannya bahwa nilai alat tukar uang mulai mengalami guncangan dan cenderung menurun, sementara harga berbagai kebutuhan—termasuk kebutuhan dasar—dinilai berpotensi bergejolak. Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat nilai aset dalam bentuk uang tunai terkoreksi secara drastis.

“Dengan situasi yang demikian, maka cara yang aman untuk menabung, investasi, atau untuk biaya ibadah haji adalah dalam bentuk logam mulia, khususnya emas, karena nilainya relatif stabil dan cenderung naik,” kata H. Siswandi.

Ia menjelaskan, alasan emas dipandang menjadi pilihan utama berkaitan dengan prinsip perlindungan nilai (hedging), stabilitas jangka panjang, serta ketahanan terhadap inflasi. Emas disebut sebagai aset safe haven yang dapat membantu mengamankan kekayaan dari ketidakpastian ekonomi global dan depresiasi mata uang.

“Emas juga berfungsi sebagai pelindung nilai yang handal. Berbeda dengan uang kertas yang nilainya bisa tergerus inflasi, emas telah terbukti mempertahankan daya beli riil selama berabad-abad,” ujarnya.

Menurutnya, emas dapat menjadi solusi atas penurunan daya beli, terutama saat krisis ekonomi atau resesi, sehingga cocok untuk kebutuhan jangka panjang seperti tabungan, dana pendidikan, maupun dana pensiun. Ia juga menilai emas memiliki keunggulan dari sisi kemudahan dicairkan menjadi uang tunai.

“Emas mudah dicairkan menjadi uang tunai (likuid) dan tidak bergantung pada kebijakan moneter bank sentral. Hal ini memberikan ketenangan dan kebebasan finansial bagi pemiliknya,” tutur H. Siswandi.

Ia menambahkan, investasi emas juga dapat mendorong kebiasaan menabung secara bertahap dan konsisten, serta tidak berorientasi pada keuntungan spekulatif jangka pendek.