BERITA TERKINI
Primatolog Jane Goodall Meninggal Dunia pada Usia 91 Tahun Saat Tur di Amerika Serikat

Primatolog Jane Goodall Meninggal Dunia pada Usia 91 Tahun Saat Tur di Amerika Serikat

Primatolog asal Inggris Jane Goodall meninggal dunia pada Rabu, 1 Oktober 2025, dalam usia 91 tahun. Goodall wafat saat berada di California, Amerika Serikat, sebagai bagian dari tur pidatonya.

Kabar duka tersebut disampaikan melalui unggahan di akun Facebook yayasan yang ia dirikan, Jane Goodall Institute. Dalam pernyataannya, yayasan menyebut Goodall—Utusan Perdamaian PBB sekaligus pendiri Jane Goodall Institute—meninggal karena sebab alamiah.

Sejumlah organisasi dan tokoh menyampaikan belasungkawa. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan duka dan mengapresiasi peninggalan serta dedikasi Goodall bagi umat manusia dan alam. Greenpeace juga menyampaikan dukacita dan menyebut Goodall sebagai salah satu tokoh konservasi sejati. Direktur Eksekutif Greenpeace Inggris, Will McCallum, mengatakan warisan Goodall tidak hanya berada di ranah sains, tetapi juga dalam gerakan global yang ia rintis untuk melindungi alam.

Jane Goodall lahir di London pada 3 April 1934. Ketertarikannya pada hewan disebut bermula sejak masa kanak-kanak, termasuk ketika ayahnya memberinya boneka simpanse yang ia simpan seumur hidup. Pada 1957, ia pergi ke Kenya atas undangan seorang teman dan mulai bekerja untuk ahli paleontologi Louis Leakey.

Leakey kemudian mengirim Goodall untuk mempelajari simpanse di Tanzania. Ia menjadi yang pertama dari tiga perempuan yang dipilih Leakey untuk meneliti kera besar di alam liar, bersama Dian Fossey yang meneliti gorila dan Birute Galdikas yang meneliti orangutan.

Dalam pengamatannya, Goodall mencatat perilaku simpanse yang menggunakan batang dan ranting rumput sebagai alat untuk memancing rayap dari gundukan. Temuan tersebut mendorong Leakey agar Goodall meraih gelar doktor di Universitas Cambridge. Di sana, ia disebut menjadi orang kedelapan yang meraih gelar doktor tanpa terlebih dahulu meraih gelar sarjana.

Goodall juga dikenal karena pendekatannya yang menekankan individualitas simpanse. Dalam bukunya The Chimpanzees of Gombe, ia menulis bahwa setiap simpanse memiliki karakter unik dan memilih memberi nama—seperti David Greybeard, Flo, atau Flint—sebagai pengakuan bahwa simpanse bukan sekadar objek penelitian.

Pada 1977, Goodall mendirikan Jane Goodall Institute untuk memajukan penelitian dan konservasi simpanse. Pada 1991, ia meluncurkan Roots & Shoots, program lingkungan yang dipimpin kaum muda dan kini beroperasi di lebih dari 60 negara.

Dalam wawancara dengan Times pada 2022, Goodall mengatakan ia tidak tidur di ranjang yang sama selama lebih dari tiga minggu sejak 1986 karena kesibukan bepergian. Atas dedikasinya di bidang konservasi, ia dianugerahi gelar Dame pada 2003 dan menerima Presidential Medal of Freedom Amerika Serikat pada 2025.

Melalui Jane Goodall Institute, ia juga mengampanyekan pelestarian hutan tropis, termasuk hutan Sumatera, yang menjadi habitat penting orangutan, harimau, dan gajah. Goodall menegaskan penyelamatan hutan Sumatera bukan hanya soal menjaga satwa liar, melainkan juga keberlanjutan hidup masyarakat lokal yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Goodall disebut tetap aktif hingga akhir hayat. Ia diwawancarai di atas panggung di New York seminggu sebelum kabar duka ini, dan dijadwalkan kembali berbicara dalam sebuah acara di California pada 3 Oktober 2025. Namun, ia meninggal dunia pada 1 Oktober 2025.