BERITA TERKINI
Putin: Tak Ada Perang Baru Usai Ukraina Jika Barat Menghormati Kepentingan Rusia

Putin: Tak Ada Perang Baru Usai Ukraina Jika Barat Menghormati Kepentingan Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan tidak akan ada perang baru setelah konflik di Ukraina, selama negara-negara Barat menghormati kepentingan strategis Rusia. Pernyataan itu disampaikan Putin dalam acara tahunan Direct Line yang disiarkan televisi nasional Rusia dan berlangsung hampir empat setengah jam.

Menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan operasi militer lanjutan, Putin menepis spekulasi tersebut. Ia menyebut klaim bahwa Rusia berencana menyerang negara-negara Eropa sebagai “omong kosong”. Menurutnya, konflik dapat dihindari apabila Barat berhenti mengabaikan kepentingan keamanan Moskow.

“Tidak akan ada operasi apa pun jika Anda memperlakukan kami dengan hormat dan menghormati kepentingan kami,” ujar Putin, merujuk pada ketegangan berkepanjangan antara Rusia dan negara-negara NATO.

Putin kembali menyoroti ekspansi NATO ke arah timur yang menurutnya telah “menipu” Rusia sejak era runtuhnya Uni Soviet. Ia menilai jaminan keamanan yang diabaikan Barat menjadi salah satu pemicu memburuknya hubungan Rusia dengan Eropa dan Amerika Serikat. Klaim tersebut telah lama dibantah oleh sejumlah pemimpin Barat dan mendiang pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev.

Meski menyatakan kesiapan untuk mengakhiri perang Ukraina secara damai, Putin tidak menunjukkan tanda-tanda kompromi signifikan. Ia mengulang tuntutan agar Ukraina menarik pasukannya dari wilayah yang sebagian diduduki Rusia dan menghentikan ambisi bergabung dengan NATO. Rusia juga menuntut kendali penuh atas kawasan Donbas di Ukraina timur.

Pernyataan Putin muncul di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung. Beberapa jam setelah acara tersebut, otoritas Ukraina melaporkan serangan rudal Rusia di wilayah Odesa yang menewaskan dan melukai warga sipil. Konflik yang dimulai sejak Februari 2022 itu kini memasuki tahun keempat di tengah meningkatnya tekanan internasional.

Selain isu geopolitik, Putin turut menyinggung kondisi ekonomi domestik Rusia. Ia mengakui adanya tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan di tengah kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN). Namun, Kremlin berupaya menampilkan ketahanan ekonomi, termasuk melalui keputusan bank sentral Rusia menurunkan suku bunga acuan.

Pernyataan Putin mempertegas posisi Moskow bahwa stabilitas kawasan Eropa, menurut Rusia, sangat bergantung pada pengakuan dan penghormatan Barat terhadap kepentingan strategisnya.