Putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar segera mengambil tindakan tegas terhadap rezim Iran. Seruan itu disampaikan di tengah gelombang protes mematikan yang terus berlangsung di Iran, ketika para demonstran tetap turun ke jalan meski menghadapi penindakan keras dari pemerintah.
Dalam wawancara dengan Norah O’Donnell dari CBS News pada Senin (12/1/2026), Pahlavi menekankan urgensi situasi. Ia mengatakan tindakan cepat diperlukan agar jumlah korban dapat ditekan. “Kita perlu tindakan segera. Cara terbaik untuk memastikan bahwa akan ada lebih sedikit orang yang terbunuh di Iran adalah dengan campur tangan lebih cepat, sehingga rezim ini akhirnya runtuh dan mengakhiri semua masalah yang kita hadapi,” ujarnya.
Pahlavi telah hidup di pengasingan sejak ayahnya—shah terakhir Iran—digulingkan dalam Revolusi Islam 1979 yang mengantarkan rezim ulama berkuasa. Ia menyebut telah berkomunikasi dengan pemerintahan Trump, tetapi menolak merinci isi pembicaraan. Menurut Pahlavi, upaya terbaru Republik Islam untuk menghubungi pemerintahan Trump merupakan taktik untuk meredam protes nasional yang dinilai mengancam kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Trump, pada Minggu (11/1/2026) malam, mengatakan kepada wartawan bahwa ia telah berbicara dengan para pemimpin Iran pada Sabtu (10/1/2026) dan bahwa pihak Iran menelepon untuk bernegosiasi. Trump juga mengancam tindakan militer terhadap rezim tersebut dan menyatakan masih mempertimbangkan opsi yang ada, setelah pada Jumat (9/1/2026) memperingatkan bahwa AS akan terlibat jika rezim mulai “membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu.”
“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka,” kata Trump pada Jumat. Ia menambahkan bahwa hal itu tidak berarti mengerahkan pasukan darat, tetapi menyerang “dengan sangat, sangat keras” di titik lemah. Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Senin (12/1/2026) menyatakan semua opsi tetap terbuka, termasuk serangan udara.
Pahlavi menilai garis merah yang ditetapkan Trump telah dilanggar oleh rezim Iran. Ia menuduh rezim tersebut berusaha meyakinkan dunia bahwa mereka siap bernegosiasi demi mengakhiri kerusuhan. Menurutnya, perubahan besar akan terjadi bila rezim menyadari mereka tidak bisa terus mengandalkan penindasan tanpa reaksi dari dunia.
Ketika ditanya apakah ia mendorong Trump untuk memulai perubahan rezim, Pahlavi menjawab bahwa Trump bersolidaritas dengan rakyat Iran, yang menurutnya menuntut agar rezim saat ini lengser. “Dan tuntutan mereka adalah agar rezim ini harus lengser,” katanya.
Menurut laporan yang dikutip AcehGround, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS menyebut lebih dari 500 orang tewas dan jumlah penangkapan melampaui 10.000 orang selama protes yang berlanjut hingga minggu ketiga. Saat ditanya apakah ia merasa bertanggung jawab karena mendorong warga Iran turun ke jalan di tengah penindakan, Pahlavi tidak menjawab secara langsung. “Ini adalah perang dan perang memiliki korban,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tindakan diperlukan untuk meminimalkan korban jiwa, terutama korban tak berdosa.
Pahlavi juga menggambarkan dirinya sebagai suara rakyat Iran di luar negeri dan menyatakan seruan terhadap namanya selama aksi protes menunjukkan legitimasi peran yang dapat ia mainkan. Namun, ia mengakui tidak jelas seberapa besar dukungan yang ia miliki di dalam negeri. “Mengapa saya menawarkan jasa saya kepada rakyat Iran? Saya menjawab panggilan mereka,” katanya, seraya menyebut dirinya sebagai “jembatan” dan bukan tujuan akhir.
Meski belum menginjakkan kaki di Iran selama hampir 50 tahun, Pahlavi mengatakan ia bersedia mati untuk perjuangan tersebut. Ia merujuk pada keberanian mereka yang berada di garis depan protes. “Bagaimana mungkin saya tidak siap untuk mati demi mereka? Mati demi kebebasan, mati demi menyelamatkan bangsa kita? Saya siap melakukan itu,” ujarnya.
Ia menilai protes kali ini berbeda dari pemberontakan di masa lalu. Menurut Pahlavi, aksi yang dipicu bulan lalu oleh runtuhnya mata uang negara itu telah berkembang dari tuntutan reformasi atau ekonomi menjadi tuntutan untuk mengakhiri rezim. “Sekarang tuntutannya adalah mengakhiri rezim ini. Ini benar-benar revolusi dalam arti sebenarnya,” katanya. Ia juga menyinggung faktor keberadaan Trump di Gedung Putih, mengingat Trump pernah menjabat saat protes 2018 dan 2019 yang tidak berujung pada perubahan rezim. Pahlavi menyebut Trump sebagai sosok yang menepati janji dan menyampaikan maksudnya secara tegas.

