BERITA TERKINI
Rokhmin Dahuri Nilai Fitnah Dajjal Hadir sebagai Sistem Global, Bukan Sosok Fisik

Rokhmin Dahuri Nilai Fitnah Dajjal Hadir sebagai Sistem Global, Bukan Sosok Fisik

Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Rektor Universitas UMMI Bogor, Rokhmin Dahuri, menyampaikan pandangannya bahwa fitnah Dajjal tidak hadir dalam bentuk sosok fisik, melainkan sebagai sistem global yang kompleks. Ia menilai sistem tersebut mencakup aspek geopolitik, kecerdasan buatan (AI), dan ekonomi dunia.

Pandangan itu disampaikan Rokhmin dalam pemaparan bertajuk Serial Geoprofetik Al-Kahfi | IPCE “Mekanisme Sistemik Fitnah Dajjal Dalam Geopolitik, AI, dan Ekonomi” pada Jumat (24/4/2026).

Dalam pemaparannya, Rokhmin menyebut fitnah terbesar tidak datang sebagai sesuatu yang mudah dikenali. “Fitnah terbesar tidak datang dengan kostum Halloween, Ia datang dengan jas Armani, algoritma canggih, dan jargon ekonomi,” ujarnya.

Ia menilai kesalahan mendasar banyak orang adalah menunggu kemunculan sosok Dajjal, padahal yang lebih dahulu hadir adalah infrastruktur sistemik yang mempersiapkan dunia untuk menerimanya tanpa perlawanan berarti. Menurutnya, fitnah terbesar hadir sebagai sistem yang halus, rasional, efisien, dan tampak menyelamatkan.

Dalam konteks geopolitik, Rokhmin menilai konflik global modern merupakan bentuk rekayasa fragmentasi yang sengaja diciptakan untuk memecah kesatuan. Ia menyebut dunia Islam sebagai contoh yang terus dipelihara dalam kondisi terbelah. “Inilah mekanisme pertama fitnah: memastikan tidak pernah ada kesatuan kesadaran. Karena kesatuan adalah ancaman terbesar bagi sistem yang bergantung pada fragmentasi,” katanya.

Rokhmin juga menyoroti peran AI dalam membentuk persepsi manusia. Menurutnya, di era digital, realitas tidak hanya dialami, tetapi juga diproduksi melalui algoritma yang mengatur informasi yang diterima publik. “Setiap orang merasa tahu, namun tidak ada yang benar-benar melihat utuh. Persepsi dikendalikan, keputusan manusia tidak lagi sepenuhnya miliknya,” ujarnya.

Selain itu, ia mengkritisi sistem ekonomi global yang dinilai membangun ketergantungan antarnegara melalui mekanisme finansial, sanksi, dan kontrol akses pasar. Ia menilai sistem tersebut menjadi instrumen kendali yang efektif dalam skala global. “Dalam sistem ini, kekuatan tidak selalu datang dari produksi, tetapi dari kemampuan mengatur akses. Sanksi ekonomi bukan sekadar kebijakan, melainkan instrumen disiplin global,” kata Rokhmin.

Ia menambahkan, kondisi semacam itu dapat menciptakan ilusi keamanan, padahal manusia berada dalam sistem yang mengikat dan tidak sepenuhnya dikuasai.

Lebih jauh, Rokhmin memperkenalkan konsep Hybrid Intelligence (HI) sebagai pendekatan untuk memahami realitas kompleks, dengan menggabungkan kecerdasan manusia, teknologi, serta dimensi spiritual berupa Nur (cahaya) dan Bashirah (pandangan batin). Menurutnya, tanpa HI, seseorang berisiko terjebak pada analisis geopolitik yang dangkal, kekaguman buta pada teknologi, atau reduksionisme ekonomi yang mengabaikan dimensi spiritual.

Menutup pemaparannya, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap fenomena talbis, yakni pencampuran antara kebenaran dan kebatilan, yang disebutnya menjadi ciri utama fitnah di era modern. “Fitnah terbesar tidak akan runtuh karena kelemahannya, tetapi karena ada manusia yang tidak lagi bisa dikendalikan olehnya. Mereka yang tidak mudah dipecah oleh identitas, tidak mudah dibentuk oleh narasi, dan tidak mudah ditaklukkan oleh ketakutan ekonomi,” pungkasnya.