Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Rabu, melemah 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.892 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.872 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi sikap pelaku pasar yang merespons meningkatnya risiko pasokan di tengah konflik Asia Barat. Menurutnya, situasi memburuk ketika pasukan Israel dan Amerika Serikat melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas yang terkait dengan Iran pada Selasa (3/3). Iran kemudian merespons dengan meningkatkan pengerahan militer di Teluk serta mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran global.
Ibrahim menyebut Iran juga menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur sempit yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global. Otoritas Iran disebut bersumpah akan menyerang kapal apa pun yang melewati selat tersebut.
Ancaman terhadap Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting ekspor minyak mentah dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, dinilai menambah premi risiko geopolitik yang signifikan pada harga minyak. Ibrahim juga menyampaikan bahwa Irak mulai menghentikan produksi di ladang Rumaila—ladang terbesar di negara itu—serta di West Qurna 2, dengan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari dihentikan.
Dari dalam negeri, Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat kredit jangka panjang mata uang asing (Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) tetap berada di level BBB.
Ibrahim menjelaskan, revisi outlook tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi pengambilan keputusan. Kondisi itu dinilai dapat menekan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, serta memberi tekanan terhadap ketahanan eksternal.
Namun Fitch mempertahankan peringkat BBB karena Indonesia dinilai memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Penilaian itu didukung prospek pertumbuhan jangka menengah, rasio utang pemerintah yang moderat terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta cadangan eksternal yang masih memadai.
Fitch memproyeksikan defisit fiskal Indonesia pada 2026 berada di kisaran 2,9 persen PDB, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7 persen. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif serta peningkatan belanja sosial, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di sisi kebijakan moneter, Ibrahim menyebut Bank Indonesia mengisyaratkan pemantauan ketat terhadap dampak inflasi dari kenaikan harga energi global sekaligus untuk menjaga rupiah. BI disebut tetap berada di pasar melalui intervensi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga melemah ke level Rp16.911 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.870 per dolar AS.

