BERITA TERKINI
Rupiah Sempat Tembus Rp17.300 per Dolar AS, Pemerintah Sebut Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Rupiah Sempat Tembus Rp17.300 per Dolar AS, Pemerintah Sebut Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah dalam beberapa hari terakhir sempat menembus Rp17.300 per dolar AS. Level tersebut bahkan disebut sebagai salah satu titik terlemah sepanjang sejarah, di tengah tekanan yang datang dari faktor global maupun domestik.

Data pasar menunjukkan tekanan eksternal dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik yang dipicu perang Iran versus Amerika Serikat/Israel, serta dinamika harga minyak dunia. Kondisi ini turut mendorong sentimen pasar dan memengaruhi pergerakan mata uang, termasuk rupiah.

Dari sisi domestik, sejumlah faktor juga disebut memberi tekanan, antara lain kondisi fiskal, beban subsidi energi, dan kebutuhan pembiayaan utang. Kombinasi faktor eksternal dan internal itu menjadi latar pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir.

Meski demikian, pemerintah menyampaikan optimisme bahwa rupiah masih relatif stabil dibandingkan sejumlah negara lain. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat, ditopang surplus perdagangan, konsumsi domestik, serta inflasi yang terkendali. Menurutnya, nilai tukar rupiah menunjukkan ketahanan di tengah dinamika pasar global.

Ia juga menyebutkan bahwa pada penutupan perdagangan Jumat (24/4) sore, rupiah tercatat menguat 0,52% ke level Rp17.205 per dolar AS. Penguatan ini dinilai meredakan kekhawatiran sebagian pihak terkait potensi pelemahan mata uang domestik.

Menkeu menegaskan pergerakan rupiah saat ini tidak mencerminkan pemburukan fundamental ekonomi nasional. Ia mengatakan posisi rupiah relatif masih lebih kuat dibandingkan sejumlah negara di kawasan, serta menyebut fondasi ekonomi Indonesia tetap terjaga dan diproyeksikan semakin kokoh ke depan.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan publik mengenai makna ketika rupiah menyentuh Rp17.300 per dolar AS: apakah menjadi sinyal bahaya atau masih dalam batas wajar, serta langkah apa yang perlu dilakukan untuk menjaga dan menguatkan rupiah di tengah ketidakpastian global.

Untuk membahas persoalan itu, Radio Idola Semarang menggelar diskusi dengan Ekonom Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Esther Sri Astuti, PhD, dan Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko.