Rusia memperingatkan Uni Eropa (UE) agar tidak mengambil langkah yang dinilai ilegal terkait aset-aset Rusia yang saat ini dibekukan di Eropa. Moskow menegaskan, setiap tindakan semacam itu akan memicu “reaksi paling keras” dan Rusia telah menyiapkan langkah balasan.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (4/12/2025), menyusul usulan Komisi Eropa untuk menggunakan aset Rusia yang dibekukan—atau memanfaatkan pinjaman internasional dengan aset tersebut sebagai jaminan—guna menghimpun dana sebesar €90 miliar (sekitar US$105 miliar) bagi Ukraina. Dana itu disebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan militer serta layanan dasar Ukraina yang tertekan akibat perang dengan Rusia.
Dalam usulan tersebut, Komisi Eropa dikabarkan mempertimbangkan penggunaan kewenangan darurat yang belum pernah diterapkan sebelumnya. Langkah ini dimaksudkan untuk mengatasi potensi hak veto dari negara-negara anggota UE yang dinilai memiliki kedekatan dengan Rusia, seperti Hungaria dan Slovakia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan kepada wartawan bahwa Rusia tidak akan membiarkan tindakan yang melibatkan asetnya tanpa respons. Ia menyatakan persiapan untuk paket tindakan balasan telah dilakukan jika terjadi “pencurian dan penyitaan” aset Federasi Rusia.
Di sisi lain, UE telah berbulan-bulan berdebat untuk mencari mekanisme hukum yang memungkinkan pemanfaatan aset Rusia yang dibekukan di Eropa guna mendukung pinjaman bagi Ukraina.
Belgia, yang menjadi lokasi sebagian besar aset beku tersebut, dilaporkan semakin tegas menentang rencana itu. Belgia meminta jaminan dari mitra-mitra UE agar tanggung jawab dibagi apabila kelak muncul gugatan hukum terkait legalitas penyitaan aset tersebut.
Zakharova juga menanggapi perdebatan di internal UE dengan menyebut adanya “kekuatan rasional” di dalam blok yang berupaya menghalangi rencana tersebut karena menyadari tindakan itu akan ilegal.

