BERITA TERKINI
Sekjen PBB Desak Selat Hormuz Segera Dibuka, Peringatkan Dampak Serius bagi Energi dan Ekonomi Global

Sekjen PBB Desak Selat Hormuz Segera Dibuka, Peringatkan Dampak Serius bagi Energi dan Ekonomi Global

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan agar Selat Hormuz segera dibuka kembali, menyusul penutupan dan gangguan pelayaran yang terjadi sejak awal Maret.

Seruan itu disampaikan Guterres pada Senin (27/4) dalam debat terbuka Dewan Keamanan PBB yang membahas keselamatan dan perlindungan jalur maritim. Ia menegaskan hak dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus dihormati sesuai Resolusi 2817 Dewan Keamanan PBB.

Guterres meminta agar kapal-kapal dari seluruh dunia diizinkan melintas tanpa biaya tambahan maupun diskriminasi. “Saya menyerukan kepada semua pihak, buka selat itu. Biarkan kapal-kapal melintas. Biarkan perdagangan kembali berjalan. Biarkan ekonomi global bernapas,” ujarnya.

Menurut Guterres, gangguan di Selat Hormuz telah berdampak besar terhadap keamanan energi, pasokan pangan, dan perdagangan global. Selat tersebut disebut sebagai jalur vital bagi sekitar 20% perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia, serta menampung hampir sepertiga dari total pupuk yang diperdagangkan secara internasional.

Ia menilai situasi ini memicu guncangan ekonomi yang cepat, ditandai volatilitas tajam di pasar energi, kenaikan biaya transportasi dan asuransi laut, serta gangguan rantai pasokan global yang disebutnya sebagai yang terburuk sejak pandemi COVID-19 dan perang Ukraina.

Krisis maritim ini juga dinilai memperburuk kondisi kemanusiaan. Keterlambatan logistik menghambat pengiriman bantuan darurat. Guterres juga memperingatkan bahwa terhentinya pasokan pupuk pada musim tanam yang krusial berpotensi memicu bencana kelaparan.

“Gangguan yang berkepanjangan berisiko memicu darurat pangan global, yang akan mendorong jutaan orang, terutama di Afrika dan Asia Selatan, ke dalam kelaparan dan kemiskinan,” kata Guterres.

Ia menambahkan, dampak ekonomi terberat saat ini dirasakan negara-negara kurang berkembang serta negara-negara kepulauan kecil yang sangat bergantung pada impor melalui jalur laut.

Untuk merespons situasi tersebut, Guterres menyerukan semua pihak menahan diri, mengedepankan dialog, dan membangun kembali rasa saling percaya. Ia juga menawarkan mediasi secara terbuka guna mencari solusi bersama sekaligus mengatasi akar penyebab ketidakamanan di kawasan.