Selat Malaka bukan sekadar perairan sempit di Asia Tenggara. Di balik posisinya yang membentang di antara pesisir timur Sumatra dan Semenanjung Malaya, selat sepanjang sekitar 800 kilometer ini menyimpan jejak panjang perebutan pengaruh yang melibatkan kerajaan besar hingga kekuatan lintas kawasan.
Sejak berabad-abad lalu, Selat Malaka telah menjadi jalur strategis yang memengaruhi arah perdagangan dunia. Lebarnya yang relatif sempit di sejumlah titik membuatnya menjadi choke point penting bagi pelayaran internasional. Kapal-kapal dari India, Timur Tengah, hingga China melintasi rute ini untuk mengangkut komoditas bernilai tinggi, mulai dari rempah-rempah, emas, dan sutra, hingga minyak pada era modern.
Peran tersebut menjadikan Selat Malaka kerap disebut sebagai “urat nadi” ekonomi global—sekaligus wilayah yang berulang kali menjadi ajang perebutan kendali. Sejarah mencatat sejumlah konflik yang menandai pentingnya selat ini, termasuk dua peristiwa besar berikut.
Serangan Kerajaan Chola ke Sriwijaya (1025 M)
Pada awal abad ke-11, dominasi Sriwijaya sebagai penguasa jalur perdagangan di Selat Malaka menghadapi tantangan serius. Kerajaan Chola dari India Selatan melancarkan ekspedisi militer besar yang menargetkan pusat kekuatan Sriwijaya. Operasi ini dipandang sebagai langkah ambisius pada masanya karena merupakan serangan jarak jauh melalui jalur laut.
Armada Chola dilaporkan berhasil menyerang dan menghancurkan sejumlah pelabuhan penting Sriwijaya. Dampaknya signifikan: hegemoni Sriwijaya atas jalur perdagangan internasional mulai melemah. Peristiwa ini menjadi salah satu contoh awal bagaimana Selat Malaka berperan sebagai titik krusial dalam perebutan kekuasaan di kawasan.
Konflik Majapahit dengan sisa kekuatan Sriwijaya (abad ke-14)
Memasuki abad ke-14, Majapahit tampil sebagai kekuatan baru dari Jawa. Dalam upaya memperluas pengaruh ke wilayah barat Nusantara, Majapahit berhadapan dengan sisa-sisa kekuatan Sriwijaya yang masih bertahan di Sumatra. Benturan kepentingan pun tak terelakkan, dan Selat Malaka kembali menjadi arena perebutan kendali atas jalur perdagangan strategis.
Rangkaian konflik maritim pada periode ini tidak selalu tercatat sebagai satu pertempuran besar, namun tetap menggambarkan arti penting Selat Malaka bagi dominasi ekonomi dan politik. Kontrol atas selat berarti pengaruh atas arus perdagangan—yang pada gilirannya menentukan posisi kekuatan-kekuatan besar di kawasan.