Sebanyak 86% pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia menyatakan optimistis bisnis mereka akan tumbuh tahun ini. Angka ini menjadi tingkat optimisme tertinggi sejak 2019, didorong oleh kinerja yang solid sepanjang 2025, investasi teknologi, serta fokus yang semakin kuat pada kepuasan pelanggan.
Temuan tersebut merupakan bagian dari Survei Usaha Kecil Asia-Pasifik CPA Australia ke-17 yang dilakukan secara tahunan. Survei ini memetakan tren usaha kecil di 11 ekonomi di Australia, Selandia Baru, dan Asia. Di sisi lain, keyakinan terhadap prospek ekonomi Indonesia juga tercatat tetap tinggi, dengan 71% usaha kecil memproyeksikan pertumbuhan ekonomi. Angka ini berada di atas rata-rata Asia-Pasifik yang tercatat 65%.
Regional Head CPA Australia untuk Asia Tenggara, Priya Terumalay, menyebut imbal hasil investasi teknologi yang kuat dan cepat menjadi pendorong tingginya adopsi digital. Sepanjang 2025, 72% usaha kecil di Indonesia merasakan dampak positif investasi teknologi terhadap profitabilitas, melampaui rata-rata kawasan sebesar 56%.
Meski demikian, investasi teknologi disebut masih cenderung pragmatis karena terkonsentrasi pada perangkat keras dan teknologi yang langsung bersentuhan dengan pelanggan, seperti aplikasi mobile dan sistem pembayaran digital. Priya menilai pelaku usaha kecil perlu lebih serius mempertimbangkan teknologi yang mendorong produktivitas lebih dalam, seperti kecerdasan buatan, layanan berbasis cloud, serta perangkat lunak manajemen hubungan pelanggan.
Di tengah dorongan digitalisasi, penggunaan pembayaran digital dan penjualan online justru menunjukkan sedikit penurunan pada 2025. Survei mencatat 69% usaha kecil memperoleh lebih dari 10% penjualan melalui platform pembayaran digital seperti GoPay, ShopeePay, OVO, Dana, LinkAja, dan WeChat Pay, turun dari 74% pada tahun sebelumnya. Penjualan online juga turun dari 68% menjadi 64%.
Di sisi lain, ancaman keamanan siber dinilai semakin nyata. Hampir setengah usaha kecil, atau 49%, mengaku mengalami kerugian waktu maupun finansial akibat serangan siber sepanjang 2025. Namun, hanya 45% yang secara aktif meninjau perlindungan keamanan siber mereka dalam enam bulan terakhir. Priya mengingatkan investasi teknologi perlu diiringi langkah perlindungan yang memadai untuk meminimalkan risiko siber.
Pertumbuhan bisnis yang kuat juga diikuti ekspansi tenaga kerja. Sekitar 40% usaha kecil menambah jumlah karyawan sepanjang 2025, sementara niat perekrutan diperkirakan meningkat menjadi 52% pada 2026. Kebutuhan pendanaan eksternal tetap tinggi, dengan 78% pelaku usaha mengandalkan sumber pembiayaan dari luar.
Meski prospek terlihat positif, survei mencatat perlambatan rencana inovasi. Hanya 28% usaha kecil berencana meluncurkan produk, layanan, atau proses baru yang unik tahun ini, turun dari 37% sebelumnya. Priya menyebut kenaikan biaya operasional dan ketidakpastian global dapat mendorong pelaku usaha lebih berhati-hati dalam berinovasi.
Survei juga menyoroti besarnya peran pengusaha muda. Sebanyak 57% responden merupakan pengusaha berusia di bawah 40 tahun, menjadi proporsi tertinggi di antara seluruh negara yang disurvei. Kelompok ini dinilai memiliki karakter lebih berani mengambil risiko, adaptif terhadap teknologi, serta berambisi melakukan ekspansi lebih besar.
Priya menutup dengan menilai para pengusaha muda Indonesia berada pada posisi yang baik untuk meraih hasil bisnis lebih optimal melalui fokus berkelanjutan pada kepuasan pelanggan, didukung adopsi digital, strategi bisnis yang lebih matang, dan investasi modal yang berkualitas.