JAKARTA — Dunia usaha Indonesia pada kuartal I-2026 cenderung mengambil langkah defensif di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik, lonjakan harga energi, fluktuasi nilai tukar, serta gangguan rantai pasok. Mayoritas pelaku usaha memilih memperkuat efisiensi internal, sementara sebagian lainnya masih menahan langkah dan bersikap wait and see.
Gambaran tersebut tertuang dalam Kadin Indonesia Business Pulse Q1-2026 yang diumumkan Kadin Indonesia Institute pada Jumat (24/04/2026). Survei dilakukan pada 17 Maret–5 April 2026 terhadap 210 anggota Kadin di 27 provinsi, menggunakan metode random sampling secara daring melalui WhatsApp dan formulir survei online.
Hasil survei menunjukkan, efisiensi biaya operasional menjadi strategi utama yang dipilih 33,9% responden. Pilihan ini mencerminkan fokus perusahaan untuk menjaga margin usaha dengan menekan biaya produksi, distribusi, dan operasional di tengah kenaikan harga input serta ketidakpastian yang tinggi. Prioritas pelaku usaha dinilai lebih condong pada menjaga arus kas dan stabilitas ketimbang ekspansi.
Namun, survei juga mencatat 29,3% responden mengaku belum atau tidak melakukan langkah khusus. Porsi yang besar ini menunjukkan banyak pelaku usaha masih menimbang arah strategi yang tepat, baik karena keterbatasan kapasitas adaptasi maupun kehati-hatian menghadapi situasi yang cepat berubah.
Di sisi lain, sejumlah langkah adaptif mulai terlihat meski skalanya terbatas. Sebanyak 9,9% responden menyatakan mendiversifikasi mitra dagang, 9,5% meninjau kembali kontrak bisnis dan rantai pasok, serta 7,1% mendiversifikasi sumber bahan baku atau pasokan. Sementara itu, 6,4% mengalihkan fokus ke permintaan domestik, dan hanya 3,9% yang melakukan lindung nilai aset atau mata uang (hedging), mengindikasikan praktik pengelolaan risiko keuangan belum menjadi arus utama.
Sikap defensif ini sejalan dengan persepsi pelaku usaha terhadap kondisi bisnis yang cenderung melemah. Sebanyak 40,5% responden menyatakan tidak setuju bahwa kondisi bisnis saat ini lebih baik dibanding kuartal sebelumnya. Adapun 25,2% menyatakan setuju dan 34,3% menilai kondisi relatif biasa saja.
Tekanan serupa juga tercermin pada penilaian terhadap sektor industri masing-masing. Sebanyak 44,3% responden menyatakan kondisi sektor mereka tidak lebih baik dibanding kuartal sebelumnya, sedangkan 22,9% menilai lebih baik dan 32,9% menyebut biasa saja. Temuan ini menunjukkan perlambatan dirasakan cukup luas lintas sektor dan pemulihan belum merata.
Dampaknya turut terlihat pada rencana investasi enam bulan ke depan. Survei mencatat 39,0% responden tidak setuju akan melakukan investasi dalam periode tersebut, sedikit lebih tinggi daripada 38,6% yang menyatakan setuju. Sementara 22,4% menjawab biasa saja. Angka ini menunjukkan kehati-hatian pelaku usaha masih menahan keputusan investasi.
Dari sisi tantangan, responden paling banyak menyoroti faktor kebijakan dan program pemerintah sebagai hambatan utama (16,7%). Tantangan lain yang menonjol meliputi birokrasi dan regulasi (14,3%), permintaan (11,4%), akses pembiayaan (9,5%), serta ketidakpastian hukum (9,3%). Adapun faktor eksternal seperti cuaca/iklim/bencana alam (3,6%), gangguan rantai pasok (3,4%), dan perubahan teknologi (3,0%) juga muncul meski dengan porsi lebih kecil.
Dalam konteks dampak konflik geopolitik, lonjakan harga energi atau komoditas menjadi dampak utama yang dirasakan 20,9% responden. Dampak lain yang banyak disebut adalah penurunan permintaan pasar (16,2%), depresiasi nilai tukar rupiah (16,2%), meningkatnya risiko operasional (11,8%), ketidakpastian kebijakan atau pasar global (11,5%), serta gangguan rantai pasok global (10,9%). Sementara itu, 12,5% responden menyatakan tidak merasakan dampak signifikan.
Survei juga memotret kesiapan pelaku usaha menghadapi dampak konflik geopolitik. Sebanyak 36,7% responden menyatakan siap, 32,4% menilai biasa saja, 25,8% mengaku tidak siap, dan 5,2% tidak tahu atau tidak menjawab. Pada kelompok yang merasa tidak siap, 81,8% juga menilai kondisi bisnis memburuk dan 18,2% menilai membaik. Sebaliknya, pada kelompok yang merasa siap, persepsi lebih berimbang: 52,6% menilai membaik dan 47,4% menilai memburuk.
Di tengah tekanan, survei mencatat beberapa faktor yang dinilai masih positif. Perkembangan pasar menjadi faktor utama (24,1%) meski disebut menurun dibanding kuartal sebelumnya. Perkembangan teknologi meningkat menjadi 22,0%, menunjukkan digitalisasi dan inovasi mulai dipandang sebagai sumber efisiensi dan optimisme. Faktor positif lain meliputi kebijakan (13,6%), regulasi yang membaik (11,9%), persaingan usaha yang lebih kondusif (10,6%), akses pembiayaan (7,0%), serta peningkatan akses pasar internasional (4,3%).
Untuk kuartal II-2026, keyakinan pelaku usaha terhadap perbaikan kondisi bisnis terutama bertumpu pada kebijakan pemerintah pusat. Sebanyak 39,5% responden menyebut kebijakan pemerintah pusat sebagai faktor utama yang mendorong keyakinan perbaikan bisnis dan perekonomian. Dalam survei ini, kebijakan yang dikaitkan dengan ekspektasi tersebut antara lain stabilitas harga energi, peningkatan mandatori biodiesel dari B40 ke B50, serta peningkatan belanja negara sebagai stimulus fiskal.
Sumber optimisme lainnya datang dari tren pasar dunia atau internasional (16,2%), kepastian hukum yang membaik (14,3%), akses pembiayaan yang lebih mudah (11,9%), kebijakan pemerintah daerah (8,1%), serta insentif fiskal yang tepat (5,2%). Di sisi lain, 1,9% responden menjawab tidak ada faktor pendorong, dan 1,9% menyebut kestabilan geopolitik.
Sejalan dengan itu, pelaku usaha juga menyampaikan kebutuhan kebijakan mitigasi yang dianggap paling mendesak. Dukungan subsidi atau insentif fiskal sementara dipilih 19,8% responden, diikuti kemudahan akses pembiayaan (19,5%), stabilitas nilai tukar dan kebijakan moneter yang responsif (16,7%), diversifikasi dan stabilisasi pasokan energi (15,1%), serta dukungan logistik dan jaminan keamanan (15,1%). Sementara pengurangan tarif perdagangan (6,0%) dan pengembangan instrumen hedging serta diversifikasi finansial (5,7%) berada pada porsi lebih rendah.
Secara keseluruhan, Kadin Indonesia Business Pulse Q1-2026 menggambarkan dunia usaha yang masih berada dalam fase kehati-hatian. Efisiensi, penahanan investasi, dan pemantauan situasi menjadi strategi dominan, sementara optimisme tetap ada namun sangat bergantung pada konsistensi kebijakan pemerintah, perbaikan pasar global, dan kemudahan akses pembiayaan.