BERITA TERKINI
Survei Kadin: Perlambatan Bisnis pada Kuartal I-2026 Bikin Pelaku Usaha Tahan Investasi di Tengah Gejolak Global

Survei Kadin: Perlambatan Bisnis pada Kuartal I-2026 Bikin Pelaku Usaha Tahan Investasi di Tengah Gejolak Global

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melaporkan perlambatan aktivitas dunia usaha nasional pada kuartal I-2026. Kondisi ini dipengaruhi meningkatnya tekanan dari dalam negeri maupun faktor eksternal, sebagaimana tercermin dalam survei Business Pulse Kuartal I 2026 yang dilakukan Kadin Indonesia Institute.

Survei tersebut melibatkan 210 responden yang merupakan anggota Kadin di 27 provinsi dan dilaksanakan pada 17 Maret hingga 5 April 2026. Hasilnya menunjukkan persepsi pelaku usaha terhadap kondisi bisnis melemah dibandingkan kuartal IV-2025.

Proporsi responden yang menilai kondisi bisnis memburuk meningkat menjadi 40,5% dari 34,8% pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, persentase pelaku usaha yang menyatakan kondisi bisnis membaik turun tajam dari 39,3% menjadi 25,2%.

Dalam laporannya yang diterima di Jakarta, Sabtu (25/4), Kadin Institute menyebut perubahan ini mencerminkan pergeseran pandangan pelaku usaha yang kini cenderung melihat kondisi bisnis semakin melemah.

Kadin menilai pelemahan terjadi akibat tekanan dari sisi permintaan dan biaya operasional. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat permintaan dinilai tidak stabil. Di saat yang sama, kenaikan harga bahan baku dan energi menambah beban operasional. Ketidakpastian ekonomi global juga disebut memperburuk situasi, terutama terkait distribusi dan harga komoditas.

Sentimen negatif turut menguat di sektor industri. Responden yang menilai kondisi sektoral memburuk meningkat menjadi 44,3% dari 35,5% pada kuartal IV-2025. Adapun pelaku usaha yang optimistis terhadap kondisi sektor turun menjadi 22,9%, mengindikasikan tekanan yang meluas pada aktivitas produksi dan distribusi.

Dampak lanjutan dari pelemahan ini terlihat pada rencana investasi. Survei mencatat 39% responden menyatakan tidak berencana melakukan investasi dalam enam bulan mendatang, naik dari 24,5% pada kuartal sebelumnya. Kadin menilai penurunan minat investasi ini menggambarkan meningkatnya kehati-hatian pelaku usaha di tengah ketidakpastian ekonomi.

Survei juga mencatat tantangan utama yang dirasakan pelaku usaha berasal dari kebijakan dan program pemerintah, dengan porsi 16,7%. Faktor lain yang masih menjadi hambatan adalah birokrasi (14,3%) dan permintaan yang lemah (11,4%). Di sisi lain, akses pembiayaan disebut menunjukkan perbaikan.

Meski demikian, pelaku usaha masih melihat peluang dari perkembangan pasar dan teknologi. Perkembangan pasar menjadi faktor positif terbesar dengan porsi 24,1%, sementara kemajuan teknologi meningkat menjadi 22% seiring percepatan digitalisasi di berbagai sektor.

Memasuki kuartal II-2026, responden menaruh harapan pada kebijakan pemerintah pusat sebagai pendorong utama perbaikan kondisi bisnis, dengan tingkat keyakinan 39,5%. Selain itu, tren pasar internasional serta kemudahan akses pembiayaan dinilai mulai memberi sinyal positif.

Namun, dinamika geopolitik global turut menambah tekanan. Kadin mencatat konflik Israel–AS vs Iran berdampak pada dunia usaha, terutama melalui lonjakan harga energi (20,9%). Selain itu, depresiasi nilai tukar dan penurunan permintaan masing-masing tercatat sebesar 16,2% sebagai dampak yang dirasakan responden.

Dalam menghadapi risiko geopolitik, mayoritas pelaku usaha menyatakan cukup siap (36,7%). Meski begitu, 25,8% responden mengaku tidak siap menghadapi dampaknya, yang berpotensi memperburuk kondisi usaha mereka.

Langkah antisipasi yang paling banyak dilakukan perusahaan adalah efisiensi biaya operasional (33,9%). Sementara itu, 29,3% responden menyatakan belum mengambil langkah khusus dan memilih bersikap wait and see di tengah ketidakpastian global.

Kadin menekankan perlunya dukungan pemerintah melalui subsidi atau insentif fiskal serta kemudahan akses pembiayaan sebagai kebutuhan utama pelaku usaha. Stabilitas nilai tukar dan kebijakan moneter yang responsif juga dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan dunia usaha di tengah gejolak global.