BERITA TERKINI
Survei Kadin: Sentimen Bisnis Melemah pada Kuartal I 2026, Investasi dan Ekspansi Tertahan

Survei Kadin: Sentimen Bisnis Melemah pada Kuartal I 2026, Investasi dan Ekspansi Tertahan

Kondisi dunia usaha Indonesia memasuki fase kewaspadaan. Survei Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menunjukkan sentimen bisnis melemah signifikan pada kuartal I 2026, di tengah tekanan global dan domestik yang dinilai kian berlapis.

Dalam laporan Kadin Business Pulse Q1 2026, proporsi pelaku usaha yang menilai kondisi bisnis membaik turun dari 39,3% pada kuartal sebelumnya menjadi 25,2%. Pada saat yang sama, penilaian bahwa kondisi memburuk meningkat menjadi 40,5%. Perubahan ini mencerminkan kecenderungan pelaku usaha untuk menahan langkah ekspansi dan bersikap lebih hati-hati.

Pelemahan sentimen tersebut tercermin pada rencana investasi. Minat investasi turun dari 47,1% pada kuartal IV 2025 menjadi 38,6% pada kuartal I 2026. Sementara itu, porsi pelaku usaha yang tidak berencana berinvestasi meningkat dari 24,5% menjadi 39,0%. Kondisi ini mengindikasikan semakin banyak perusahaan memilih menunda ekspansi dan beralih ke strategi bertahan.

Ketua Umum Kadin Anindya Bakrie menyoroti meningkatnya tekanan biaya operasional yang tidak diimbangi daya beli masyarakat. Selain itu, tekanan likuiditas disebut menjadi faktor utama yang membuat dunia usaha lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Kadin mengidentifikasi dua sumber tekanan utama. Dari sisi global, konflik geopolitik—terutama di Timur Tengah—dikaitkan dengan lonjakan harga energi (20,9% responden), depresiasi rupiah (16,2%), serta penurunan permintaan (16,2%). Dari sisi likuiditas, akses pembiayaan menjadi tantangan bagi 9,5% pelaku usaha di tengah biaya operasional yang terus meningkat.

Faktor domestik turut memperparah situasi. Responden menyoroti kebijakan pemerintah (16,7%), birokrasi (14,3%), serta lemahnya permintaan pasar (11,4%) sebagai tekanan tambahan. Kombinasi faktor global dan domestik ini dinilai menambah beban bagi pelaku usaha dalam menjaga kinerja.

Dampaknya mulai terlihat pada aktivitas ekonomi riil. Ketika perusahaan menunda ekspansi, penyerapan tenaga kerja berpotensi melambat, investasi baru berkurang, dan produksi tidak berkembang optimal. Survei juga mencatat 33,9% pelaku usaha kini memprioritaskan efisiensi operasional sebagai langkah utama untuk bertahan, menandai pergeseran strategi dari ekspansi agresif menuju penghematan biaya.

Di tengah ketidakpastian, sebagian pelaku usaha memilih bersikap wait and see. Sebanyak 29,3% responden disebut belum mengambil langkah strategis, dan hanya 36,7% yang merasa siap menghadapi tekanan global. Meski begitu, tidak semua sektor mengalami tekanan yang sama. Sejumlah sektor dinilai masih relatif stabil, seperti informasi dan komunikasi, jasa pendidikan, serta industri pengolahan.

Survei ini menjadi sinyal awal perlambatan yang perlu dicermati. Jika tren penahanan ekspansi berlanjut, pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat, konsumsi rumah tangga melemah, dan investasi sebagai motor ekonomi ikut tersendat. Namun, Kadin juga mencatat masih ada optimisme: 39,5% pelaku usaha memperkirakan kondisi akan membaik pada kuartal II 2026.