BERITA TERKINI
Survei Udara Pertama Ungkap Perairan Barat Sumatera Jalur Migrasi Penting Paus dan Lumba-lumba, Banyak Hotspot di Luar Kawasan Konservasi

Survei Udara Pertama Ungkap Perairan Barat Sumatera Jalur Migrasi Penting Paus dan Lumba-lumba, Banyak Hotspot di Luar Kawasan Konservasi

Perairan barat Sumatera disebut menjadi salah satu jalur migrasi penting bagi paus dan lumba-lumba. Kesimpulan ini menguat setelah survei transek udara khusus mamalia laut (cetacean) pertama di wilayah tersebut dilakukan dalam ekspedisi OceanX Indonesia Mission pada Mei–Juli 2024, yang melibatkan BRIN, OceanX, dan Konservasi Indonesia.

Survei mencakup lintasan 15.043 kilometer. Dari pemantauan itu, tim mencatat 77 kemunculan (sighting) dari 10 spesies cetacean, termasuk konfirmasi udara pertama paus pembunuh (killer whale) dan paus pembunuh kerdil (pygmy killer whale) di wilayah barat Indonesia. Selama ini, perairan barat Sumatera di Samudra Hindia dinilai relatif kurang dipelajari meski dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi.

Dengan mengintegrasikan data historis, jumlah spesies cetacean yang terdokumentasi di kawasan tersebut kini mencapai 23 spesies, atau 68 persen dari total cetacean yang diketahui ada di Indonesia. Analisis pola sebaran juga menunjukkan adanya tujuh klaster habitat berbeda yang terbentuk akibat perbedaan bentuk dasar laut serta tingkat produktivitas perairan. Temuan itu menegaskan peran dinamika oseanografi dalam menentukan area yang dimanfaatkan paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatra.

Hasil survei ekspedisi tersebut telah dipublikasikan di jurnal Frontiers in Marine Science. Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia sekaligus penulis utama studi, menyatakan survei ini mengisi kekosongan data yang selama ini membatasi pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia. Menurutnya, skala dan kualitas data memungkinkan perencanaan konservasi yang lebih berbasis bukti.

Namun, studi itu juga menyoroti belum memadainya perlindungan di jalur migrasi dan habitat penting. Hotspot kepadatan tinggi—yang didominasi spinner dolphin dan striped dolphin—teridentifikasi terutama di luar kawasan konservasi. Sebanyak 93 persen hotspot tercatat berada di luar kawasan konservasi laut yang ada maupun yang diusulkan.

Peneliti menilai hal tersebut mengindikasikan ketidaksesuaian antara jejaring kawasan konservasi saat ini dengan distribusi aktual habitat penting cetacean, khususnya di wilayah lepas pantai (offshore). Pemodelan spasial juga memperlihatkan tumpang tindih yang signifikan antara habitat cetacean dengan aktivitas perikanan intensif dan lalu lintas maritim, yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko bagi spesies tertentu. Dalam studi disebutkan beberapa spesies yang berpotensi terdampak, antara lain paus pembunuh, paus Omura, dan paus sperma, yang masuk kategori spesies terancam punah.

Pemerintah menyambut hasil penelitian tersebut. Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, menekankan pentingnya ketersediaan data dan informasi ilmiah yang sahih sebagai masukan bagi pemerintah untuk merancang intervensi yang relevan dan dapat diimplementasikan secara efektif. Ia juga menyoroti kebutuhan armada kapal riset dengan peralatan canggih untuk mengumpulkan data mengenai biodiversitas dan sumber daya laut Indonesia.

Konservasi Indonesia menilai temuan ini memperkuat kebutuhan perlindungan spasial yang lebih terarah, perencanaan ruang laut yang adaptif, serta langkah mitigasi spesifik per spesies sebagai pelengkap upaya perluasan kawasan konservasi laut menuju target 30×45. Temuan tersebut juga dikaitkan dengan pelaksanaan inisiatif nasional Blue Halo S yang berfokus pada penguatan tata kelola perikanan, perlindungan habitat laut penting, serta pengembangan ekonomi biru berkelanjutan di perairan barat Sumatra.

Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, Victor Nikijuluw, menyebut studi itu menyediakan baseline ekologi yang krusial dan mengidentifikasi area prioritas secara presisi sehingga perlindungan dapat dirancang selaras dengan keberlanjutan pemanfaatan laut. Ia juga menambahkan, wilayah barat Sumatra dinilai memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk diusulkan sebagai Important Marine Mammal Area (IMMA), sejalan dengan statusnya sebagai Ecologically or Biologically Significant Marine Area (EBSA).

Dari sisi teknologi, Co-CEO dan Chief Science Officer OceanX, Vincent Pieribone, menilai hasil studi menunjukkan kekuatan eksplorasi multi-platform ketika perangkat canggih dipadukan dengan kapasitas penelitian ilmiah. Ia menyebut OceanX mengintegrasikan operasi penerbangan, kapal, dan sistem data agar pengamatan udara dapat dihubungkan dengan informasi oseanografi dan dasar laut secara waktu nyata, sehingga membantu membangun gambaran lebih jelas mengenai cara paus dan lumba-lumba memanfaatkan wilayah lepas pantai yang terpencil.

Selain temuan di barat Sumatera, ekspedisi juga menyinggung lokasi lain yang dinilai penting bagi satwa laut. Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat, disebut sebagai lokasi penting bagi hiu paus dan ditempatkan sebagai salah satu kandidat terkuat habitat pengasuhan anakan hiu paus di dunia. Hal itu sejalan dengan penemuan bayi hiu paus berukuran 135–145 sentimeter yang diumumkan dalam jurnal Diversity pada 15 Desember 2025, yang dinilai membuka peluang untuk mengungkap lokasi hiu paus melahirkan.