BERITA TERKINI
Teknologi MOF Dikembangkan untuk Panen Air Minum dari Udara Gurun hingga 1.000 Liter per Hari

Teknologi MOF Dikembangkan untuk Panen Air Minum dari Udara Gurun hingga 1.000 Liter per Hari

Krisis air bersih yang memengaruhi lebih dari dua miliar orang di dunia disebut memasuki fase baru setelah ilmuwan Omar Yaghi mengembangkan teknologi yang dapat memanen air minum langsung dari udara kering, termasuk di wilayah gurun. Teknologi ini dirancang untuk membantu penyediaan air tanpa bergantung pada jaringan pipa konvensional maupun cadangan air tanah yang terus menyusut akibat eksploitasi dan perubahan iklim.

Sistem tersebut memanfaatkan material bernama Metal-Organic Frameworks (MOFs). Material ini memiliki struktur berpori sangat tinggi sehingga mampu menangkap molekul uap air dari udara, bahkan ketika tingkat kelembapan berada pada kisaran 10 hingga 20 persen.

Dalam mekanismenya, molekul air yang terperangkap di dalam pori-pori MOFs kemudian dilepaskan menggunakan energi panas. Setelah itu, uap air dikondensasikan menjadi cairan, disaring, dan diolah hingga dinyatakan layak dikonsumsi.

Pengembang menekankan efisiensi energi sebagai salah satu keunggulan utama perangkat ini. Sistem dapat dioperasikan sepenuhnya dengan tenaga surya atau sumber panas rendah lainnya, sehingga dinilai cocok untuk wilayah terpencil yang tidak memiliki akses listrik.

Untuk skala komersial, teknologi tersebut dikembangkan dalam unit yang ukurannya disebut tidak lebih besar dari kontainer pengiriman. Kapasitas produksinya diklaim dapat mencapai 1.000 liter air bersih per hari, jumlah yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sebuah komunitas kecil.

Laporan terbaru yang dikutip The Guardian pada Sabtu (21/2/2026) menyebutkan prototipe teknologi ini telah berhasil diuji dalam kondisi gurun ekstrem pada Februari 2026. Uji coba tersebut dilakukan pada lingkungan dengan kelembapan sangat rendah.

Keberhasilan pengujian di kondisi ekstrem itu dipandang menunjukkan ketangguhan sistem untuk diterapkan di wilayah terdampak bencana atau krisis infrastruktur. Selain untuk kebutuhan darurat, teknologi ini juga diproyeksikan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada air tanah dengan memanfaatkan kelembapan udara, sehingga berpotensi menekan beban terhadap ekosistem bawah tanah dalam jangka panjang.

Unit portabel penghasil air ini juga dinilai dapat menjadi aset bagi organisasi kemanusiaan ketika bencana alam memutus akses air bersih, guna membantu mencegah risiko penyakit akibat konsumsi air yang tidak higienis.

Saat ini, pengembang disebut masih melakukan penyempurnaan agar biaya produksi semakin terjangkau. Targetnya adalah mendorong adopsi lebih luas, terutama di negara-negara berkembang di Afrika dan Asia yang memiliki curah hujan rendah.