Kubang Putiah—Kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan algoritma penerjemah dinilai belum mampu menangkap kedalaman makna teologis dalam istilah-istilah Islam. Program studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi memperkenalkan pendekatan Islamic English atau bahasa Inggris Islami sebagai upaya menjaga ketepatan pesan saat ajaran Islam dialihbahasakan.
Dosen Magister Pendidikan Bahasa Inggris UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi, menyebut era digital membawa risiko distorsi makna ajaran agama ketika penerjemahan dilakukan secara mekanis dan terlalu harfiah. Menurutnya, pada 2026 kecanggihan penerjemah berbasis algoritma masih kerap gagal menyentuh dimensi spiritualitas yang melekat pada istilah ibadah.
Ia menjelaskan, konsep Islamic English tidak berhenti pada kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Lulusan program tersebut dilatih untuk memastikan istilah kunci Islam tidak mengalami perancuan makna ketika diterjemahkan, sehingga pesan yang disampaikan tetap sesuai dengan substansi ajaran.
Dr. Irwandi mencontohkan istilah wudhu yang sering diterjemahkan menjadi ablution. Ia menilai keduanya berbeda secara substansi. Dalam bahasa Inggris, ablution dipahami sebagai tindakan membasuh tubuh secara umum, sedangkan wudhu merupakan ritual ibadah yang memiliki urutan, syarat sah, dan nilai sakral.
Contoh lain adalah istilah haji yang kerap dialihbahasakan menjadi pilgrimage dan pelakunya disebut pilgrim. Dr. Irwandi menyebut, dalam pemahaman bahasa Inggris, pilgrim berarti peziarah secara umum. Padahal, haji merupakan rukun Islam dengan rangkaian ibadah yang spesifik. Ia mengingatkan, jika terjemahan hanya mengandalkan AI atau kamus konvensional tanpa pemahaman sosiolinguistik Islam, makna haji berisiko tereduksi menjadi sekadar aktivitas wisata religi.
Selain mengajar di Magister Pendidikan Bahasa Inggris, Dr. Irwandi juga mengampu mata kuliah Bahasa Inggris untuk Kajian Aqidah dan Filsafat Islam pada Program Studi Magister Akidah dan Filsafat Islam UIN Bukittinggi.
Dalam pandangannya, AI bekerja dengan pendekatan statistik yang tidak memiliki pemahaman spiritual. Karena itu, ia menekankan pentingnya kemampuan “interpretasi teologis” dalam penggunaan bahasa Inggris. Upaya menjaga makna dapat dilakukan, antara lain, melalui penggunaan istilah asli (transliterasi) disertai penjelasan kontekstual, atau memilih padanan kata yang paling mendekati nilai syara’.
Dr. Irwandi memaparkan beberapa alasan mengapa AI berpotensi merancukan makna Islam. Pertama, keterbatasan konteks karena AI hanya mencocokkan kata berdasarkan frekuensi penggunaan tanpa memahami konsep ibadah. Kedua, reduksi makna, misalnya istilah shalat yang sering diterjemahkan sebagai prayer, padahal shalat memiliki struktur ritual yang berbeda dari doa umum. Ketiga, bias budaya, karena kamus bahasa Inggris standar kerap memakai sudut pandang Barat yang tidak selalu selaras dengan konsep ketauhidan.
Melalui pendekatan Islamic English, UIN Bukittinggi menempatkan lulusannya sebagai pihak yang menggabungkan kompetensi linguistik dengan ketajaman akidah, agar pesan keagamaan tidak terdistorsi dalam proses alih bahasa. Dr. Irwandi menilai, selama Islam dipelajari secara global, kebutuhan terhadap pendekatan semacam ini akan tetap relevan untuk menjaga kemurnian makna di ruang komunikasi internasional.