BERITA TERKINI
Wamenlu Arif Havas Oegroseno Soroti Diplomasi Bebas-Aktif dan Reputasi Global Indonesia di ITB

Wamenlu Arif Havas Oegroseno Soroti Diplomasi Bebas-Aktif dan Reputasi Global Indonesia di ITB

Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno membahas arah diplomasi Indonesia dan pentingnya reputasi global dalam kegiatan Studium Generale di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam forum tersebut, ia menekankan relevansi politik luar negeri bebas-aktif di tengah dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks.

Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. dalam sambutannya menyampaikan bahwa institusi pendidikan memiliki peran strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di mata dunia, terutama melalui pendidikan dan riset yang berdampak. Menurutnya, diplomasi tidak hanya dijalankan melalui jalur politik dan pemerintahan, tetapi juga dapat diperkuat lewat kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan pengetahuan, inovasi, serta kolaborasi global.

Dalam paparannya, Arif Havas menjelaskan bahwa politik luar negeri Indonesia sejak awal dibangun di atas prinsip bebas-aktif, yang pertama kali dikristalisasi oleh Mohammad Hatta pada 1948 melalui pidato “Mendayung di Antara Dua Karang”. Ia menerangkan, makna “bebas” adalah Indonesia tidak menjadi satelit kekuatan besar mana pun, sementara “aktif” berarti Indonesia turut berperan dalam membentuk tatanan dunia. Prinsip tersebut, menurutnya, tetap relevan untuk menghadapi perubahan geopolitik global.

Arif Havas juga menyoroti Semangat Bandung yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika 1955. Ia menilai momentum itu bukan hanya berpengaruh terhadap lahirnya kemerdekaan di banyak negara Asia dan Afrika, tetapi juga menjadi simbol keberanian negara-negara berkembang untuk tampil dan ikut menentukan arah percaturan dunia.

Terkait situasi global saat ini, ia memaparkan bahwa rivalitas negara-negara besar tidak lagi terbatas pada bidang militer, melainkan merambah sektor strategis seperti telekomunikasi, semikonduktor, energi, hingga mineral mentah kritis. Sektor-sektor tersebut, kata dia, kini menjadi arena persaingan global yang kian intens. Dalam konteks ini, Indonesia perlu menjaga kepentingan nasional dengan tetap berpijak pada prinsip bebas-aktif tanpa terjebak pada keberpihakan yang kaku terhadap blok kekuatan tertentu.

“Indonesia tetap mengedepankan netralitas teknologi dengan tidak berpihak pada merek atau asal teknologi tertentu,” ujarnya. Ia mencontohkan pendekatan itu tercermin dalam berbagai kerja sama Indonesia dengan banyak negara, termasuk dalam pengembangan semikonduktor, penguatan sektor energi, serta upaya memperluas jejaring ekonomi dan diplomasi di berbagai kawasan.

Di bagian lain, Arif Havas menegaskan bahwa reputasi global sebuah negara dibangun melalui konsistensi kebijakan, kredibilitas diplomasi, dan kemampuan menjalin kerja sama yang saling menguntungkan. Karena itu, ia menilai Indonesia perlu terus memperkuat kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan daya saing nasional agar memiliki posisi tawar yang semakin kuat di tingkat internasional.

Bagi institusi pendidikan, hal tersebut menegaskan bahwa peran pendidikan tinggi tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun pengaruh Indonesia di dunia. Kampus, menurutnya, bukan hanya tempat belajar, melainkan ruang lahirnya gagasan, riset, dan kepemimpinan masa depan yang akan ikut menentukan arah bangsa.