Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan belanja modal pemerintah meningkat tajam sebesar 44,2% dan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut Airlangga, lonjakan belanja tersebut membantu menjaga permintaan domestik sekaligus berperan sebagai peredam (shock absorber) di tengah perlambatan ekonomi global.
Airlangga menyampaikan kinerja belanja modal pemerintah yang kuat sejalan dengan akselerasi investasi serta belanja negara pada program prioritas. Ia menilai belanja pemerintah berkontribusi langsung terhadap ketahanan ekonomi domestik, terutama pada kuartal IV.
“Investasi tumbuh signifikan 5,9% dan belanja modal pemerintah ini juga luar biasa tumbuh 44,2%,” ujar Airlangga dalam Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Ia menjelaskan belanja pemerintah pada program prioritas dan stimulus ekonomi berperan menjaga permintaan domestik serta meredam risiko perlambatan ekonomi global. Secara khusus, belanja pemerintah pada kuartal IV tumbuh 4,5%.
“Belanja pemerintah pada program prioritas dan stimulus ekonomi berperan menjaga permintaan domestik serta menjadi shock absorber terhadap risiko perlambatan ekonomi,” katanya.
Dalam paparannya kepada Presiden Prabowo Subianto, Airlangga menegaskan peningkatan belanja modal tersebut menjadi bagian dari bauran kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan (year-on-year) tercatat 5,11%, dengan konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98% sebagai penopang utama.
Selain belanja pemerintah, Airlangga menyebut investasi tumbuh 5,9%, sementara kinerja ekspor tetap positif dengan pertumbuhan 7,03%. Ia mengatakan kondisi tersebut menunjukkan permintaan domestik dan eksternal masih terjaga di tengah tantangan global.
Airlangga juga menyampaikan akselerasi belanja modal diharapkan berlanjut pada kuartal pertama 2026 seiring percepatan realisasi anggaran oleh Kementerian Keuangan. Belanja tersebut diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah dan memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi.
Ia menambahkan, kebijakan fiskal yang ekspansif namun terukur menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4%, dengan potensi mencapai 5,6%. Sektor prioritas yang didorong antara lain pertanian, industri manufaktur, ekonomi digital, dan energi.

