BERITA TERKINI
Airlangga dan Gubernur BI: Ekonomi Indonesia Tetap Solid di Tengah Tekanan Global

Airlangga dan Gubernur BI: Ekonomi Indonesia Tetap Solid di Tengah Tekanan Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tekanan ekonomi global dan mendapat pengakuan dari lembaga-lembaga ekonomi dunia. Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam agenda Kick Off PINISI di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026).

Menurut Airlangga, kekuatan ekonomi nasional tercermin dari pertumbuhan yang stabil, inflasi yang terkendali, serta konsumsi domestik yang tetap tinggi. Ia menyebut fundamental ekonomi tetap terjaga, dengan pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 5,11 persen dan target pertumbuhan pada 2026 sebesar 5,4 persen.

Airlangga juga menyampaikan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 dapat mencapai 5,5 persen, dengan inflasi terjaga di level 3,48 persen. Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen berada di angka 122,9 yang dinilai mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Dari sisi penopang pertumbuhan, Airlangga menyebut konsumsi domestik masih menjadi pilar utama dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kinerja sektor eksternal juga disebut menunjukkan tren positif, ditandai oleh neraca perdagangan yang mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut, dengan nilai mencapai 148,2 miliar dolar AS.

Ia menambahkan, rasio utang luar negeri Indonesia dinilai relatif terkendali di level 29,9 persen terhadap PDB. Struktur pembiayaan juga disebut kuat karena kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) didominasi investor domestik sebesar 87,4 persen, sementara investor asing sebesar 12,6 persen.

Airlangga mengatakan lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan Asian Development Bank (ADB) memberikan penilaian positif terhadap ekonomi Indonesia. IMF menilai Indonesia sebagai salah satu “bright spot” di Asia, sedangkan ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,2 persen.

Ia juga menyebut probabilitas resesi Indonesia diperkirakan di bawah 5 persen, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada. “Dunia masih melihat Indonesia sebagai ekonomi yang cukup kuat,” kata Airlangga.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah gejolak geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah. Perry menilai indikator seperti inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, stabilitas nilai tukar rupiah, serta pertumbuhan kredit menunjukkan kondisi ekonomi yang solid.

Perry juga menyampaikan defisit transaksi berjalan Indonesia masih berada dalam batas aman, dengan proyeksi pada 2026 di kisaran 0,5 hingga 1,3 persen dari PDB. Cadangan devisa Indonesia pun tercatat kuat, sebesar 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026, setara pembiayaan sekitar enam bulan impor.

“Kami bersama pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, bersinergi sangat erat untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry.

Dari Senayan, Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah bekerja optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Hingga 31 Maret 2026, realisasi belanja negara mencapai Rp 815,0 triliun atau tumbuh 31,4 persen secara tahunan (year-on-year).

Ia menilai capaian tersebut menunjukkan transformasi belanja negara yang kini lebih optimal sejak awal tahun. Terkait kenaikan harga minyak dunia, Kamrussamad menilai kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir 2026 merupakan langkah tepat untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, ia menyebut penyesuaian harga BBM nonsubsidi tetap diperlukan guna menjaga ruang fiskal agar tetap mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.