Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menggelar forum diskusi kelompok terarah (FGD) bertema “BPS Memperkuat Peran Media dalam Penyebaran Informasi Akurat melalui Sensus Ekonomi 2026 di Tengah Resistensi Ekonomi”. Kegiatan ini membahas pentingnya peran media dalam menyampaikan data ekonomi yang akurat di tengah dinamika global.
FGD berlangsung di Hotel Asialink, Batam, pada Sabtu, 25 April 2026, dengan menghadirkan sejumlah narasumber untuk membahas kolaborasi antara media dan Badan Pusat Statistik (BPS) menjelang pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
Kepala BPS Kepulauan Riau, Toto Haryanto Silitonga, mengatakan gejolak politik dan ekonomi global berdampak luas, termasuk pada potensi krisis energi dan fluktuasi harga. Menurutnya, data menjadi instrumen penting untuk menangkap dampak tersebut, sehingga diperlukan kerja sama dengan media agar informasi yang diterima publik tetap akurat.
“Kita memahami gejolak politik dan ekonomi yang berdampak hingga krisis energi. Semua itu bisa kita tangkap melalui data, sehingga perlu kolaborasi dengan media agar informasi yang disampaikan ke publik akurat,” ujar Toto.
Ia menegaskan BPS secara rutin menyajikan data berbasis fakta setiap bulan untuk menggambarkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Toto menilai peran media penting agar data dapat dipahami masyarakat secara benar.
“BPS memberikan informasi dalam bentuk data dan fakta. Kami menghitung berdasarkan kondisi riil di lapangan,” katanya.
Toto juga menyoroti karakteristik Kepulauan Riau sebagai wilayah kepulauan yang bergantung pada pasokan kebutuhan pokok dari luar daerah, sehingga lebih rentan terhadap gejolak harga. Ia menyebut BPS memantau ratusan komoditas yang rata-rata mengalami kenaikan sekitar dua persen setiap bulan.
Dalam kesempatan itu, Toto menekankan pentingnya Sensus Ekonomi 2026 untuk memotret kondisi riil usaha, termasuk ekonomi digital dan aspek lingkungan, sebagai dasar kebijakan ekonomi nasional. BPS mengajak berbagai pihak, termasuk media, untuk menyukseskan pelaksanaan sensus yang dijadwalkan berlangsung pada 1 Mei hingga 31 Juli 2026.
“Manfaatkan data BPS agar informasi yang disampaikan akurat dan dapat dipercaya,” tegasnya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Tribun Batam, Prawira Maulana, menyampaikan bahwa data BPS selama ini menjadi salah satu sumber utama dalam produksi berita. Namun, ia juga menyoroti tantangan baru bagi industri media seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
“Sekarang masyarakat cenderung mengambil informasi dari AI overview tanpa membuka sumber media. Dampaknya, trafik media turun hingga 70 persen dan memengaruhi monetisasi,” ujarnya.
Menurut Prawira, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi media untuk tetap relevan sekaligus menjaga kualitas informasi berbasis data. Ia juga menyinggung target pertumbuhan ekonomi enam persen yang dinilainya cukup berat, mengingat saat ini masih berada di kisaran 5,11 persen.
“Target pertumbuhan ekonomi enam persen cukup berat, saat ini masih di kisaran 5,11 persen. Ini menjadi tantangan bersama,” katanya.