Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menekankan pentingnya pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang bersifat aplikatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, pemanfaatan AI perlu diarahkan pada solusi yang dapat diterapkan secara praktis dan menjawab tantangan nyata di berbagai sektor produktif.
Pernyataan itu disampaikan Anindya dalam acara Dialogue on Talent Development Fireside Chat bertajuk “Closing the AI Skills Gap: Strategies for Developing Future-Ready Workforce” yang diselenggarakan Singapore Management University (SMU) di Jakarta, Selasa (28/4/2026). Dalam forum tersebut, ia menilai potensi besar populasi Indonesia perlu segera dioptimalkan agar sejalan dengan kontribusi ekonomi global.
Anindya memaparkan, Indonesia saat ini menyumbang sekitar 4 persen dari populasi dunia, namun kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) global baru berada di kisaran 1,3 hingga 1,4 persen. Ia melihat selisih tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan kinerja ekonomi nasional.
Ia menilai Indonesia perlu menciptakan solusi teknologi yang dibuat khusus (tailor-made) untuk menjawab persoalan yang khas di dalam negeri. Fokus adopsi teknologi, katanya, tidak semata pada kecanggihan perangkat, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut digunakan secara nyata dan berdampak.
“AI ini sesuatu yang baru, jadi kita harus fokus di aplikasinya. Indonesia punya masalah yang unik, dan kita perlu membuat solusi yang tailor-made sesuai dengan tantangan dan peluang yang kita hadapi,” ujar Anindya, yang akrab disapa Anin.
Anindya juga menekankan bahwa keberhasilan implementasi AI sangat bergantung pada keterlibatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ia menyebut UMKM sebagai tulang punggung perekonomian yang menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Karena itu, inovasi digital dinilai tidak akan berdampak maksimal jika tidak menyentuh dan menggerakkan pelaku usaha di skala tersebut.
“AI hanya akan berhasil sejauh kita mampu menggerakkan UMKM,” tegasnya.
Keterkaitan antara teknologi dan investasi, menurut Anindya, dapat dilihat dari realisasi investasi kuartal I 2026 yang menembus Rp500 triliun. Ia menjelaskan, investasi tersebut didominasi proyek skala kecil dengan nilai rata-rata sekitar Rp1,5 miliar per proyek, mencakup penambahan mesin operasional hingga ekspansi kendaraan. Kondisi ini, kata dia, menunjukkan pertumbuhan ekonomi saat ini banyak digerakkan aktivitas nyata di tingkat mikro dan menengah.
“Banyak yang mengira investasi besar datang dari proyek-proyek raksasa, padahal sebagian besar berupa penambahan mesin, kendaraan, atau ekspansi kecil lainnya,” ujarnya.
Ke depan, Anindya memperkirakan sektor jasa seperti keuangan, kesehatan, dan pendidikan akan menjadi pionir dalam menyerap inovasi AI. Sektor-sektor tersebut dinilai lebih responsif terhadap perubahan teknologi dan berpotensi menciptakan dampak sosial yang luas melalui integrasi AI dalam layanan publik maupun bisnis jasa.
“Di era AI, kita tidak hanya bertahan, tapi harus kembali ke growth story. Sektor jasa seperti keuangan, kesehatan, dan edukasi adalah yang paling cepat beradaptasi sekaligus menciptakan inovasi,” pungkasnya.