Jakarta—Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan menekankan pentingnya memahami sejarah sebagai pijakan untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional. Penekanan itu disampaikan Staf Khusus Kementerian Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya, Annisa Rengganis.
Annisa menyoroti peran R.A. Kartini melalui surat-suratnya yang dinilai membuka wawasan mengenai kondisi perempuan pada masanya, terutama terkait akses pendidikan dan kebebasan menyampaikan pendapat.
“Seandainya Kartini tidak menulis surat, kita tidak akan mengetahui bagaimana sulitnya perempuan saat itu. Zaman dimana perempuan sulit mengakses pendidikan dan menyuarakan pendapat,” kata Annisa dalam gelar wicara bertajuk Perempuan Bermimpi, Perempuan Menginspirasi di Museum R.A Kartini, Jepara, Jawa Tengah, Selasa, 21 April 2026.
Ia menegaskan, karya tulis Kartini menjadi bukti bahwa gagasan dapat melampaui zamannya dan menjadi warisan intelektual. Menurutnya, hal serupa juga terlihat pada tokoh seperti Chairil Anwar yang karya-karyanya tetap dikenang lintas generasi.
Dari situ, Annisa menilai pentingnya “diplomasi pena” atau kekuatan tulisan sebagai sarana membangun pemahaman lintas waktu dan ruang. Ia mengajak perempuan dan pegiat literasi untuk menuliskan gagasan serta pemikiran sebagai bagian dari kontribusi budaya.
“Memerdekakan diri dengan menuliskan gagasan dan pemikiran. Mungkin tidak bisa dibaca hari ini tapi nanti di masa depan bisa menjadi warisan bagi generasi yang akan datang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Annisa menyampaikan Kementerian Kebudayaan berkomitmen menciptakan ruang diskusi yang inklusif, termasuk pelibatan aktif perempuan dalam berbagai program kebudayaan. Ia menyebut perspektif keberagaman gender telah menjadi bagian dari kebijakan strategis kementerian, bahkan menjadi salah satu indikator dalam indeks pemajuan kebudayaan nasional.
“Beberapa program juga tampak salah satunya menghadirkan seniman-seniman, sastrawan, perempuan. Khususnya dalam aktivasi di program-program kementerian kebudayaan,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan ekosistem sastra sebagai bagian dari diplomasi budaya, sehingga karya tulis dan pemikiran seniman dapat menjadi jembatan hubungan internasional.
Dalam kesempatan yang sama, pegiat seni Bundengan dan Tari Topeng Lengger, Mulyani, memaparkan pandangannya mengenai arti kemerdekaan perempuan di dunia seni. Menurutnya, kemerdekaan perempuan tidak selalu dimaknai sebagai kebebasan semata, melainkan tentang bagaimana memberi arti bagi sesama.