BERITA TERKINI
Apindo Siapkan Strategi Hadapi Gejolak Global dan Fluktuasi Rupiah

Apindo Siapkan Strategi Hadapi Gejolak Global dan Fluktuasi Rupiah

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyiapkan sejumlah strategi untuk merespons fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) serta gejolak ekonomi global. Di tengah tekanan eksternal, dunia usaha disebut cenderung lebih selektif dalam penggunaan dana dan melakukan penyesuaian operasional.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani mengatakan, langkah antisipasi dilakukan melalui manajemen risiko yang lebih komprehensif, termasuk penataan struktur utang perusahaan. Menurut dia, penggunaan instrumen lindung nilai (hedging) terhadap fluktuasi kurs juga ditingkatkan, bersamaan dengan upaya menyeimbangkan komposisi utang antara rupiah dan valuta asing.

Dari sisi operasional, perusahaan melakukan efisiensi melalui rasionalisasi penggunaan dana, optimalisasi biaya kerja, serta peningkatan produktivitas. Apindo juga mencatat adanya upaya pengalihan sumber bahan baku impor secara bertahap melalui diversifikasi pemasok dan substitusi impor.

Namun, Shinta menilai kemampuan substitusi domestik masih terbatas di banyak sektor. Ia menyebut ruang adaptasi tetap ada, tetapi belum sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini.

Shinta turut memandang keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan di level 4,75% sebagai langkah positif untuk menjaga stabilitas perekonomian. Ia menilai stabilitas tersebut menjadi jangkar penting bagi dunia usaha dalam menjaga keberlangsungan operasional dan perencanaan jangka menengah.

Meski demikian, Shinta menekankan stabilisasi saja belum cukup tanpa dukungan kebijakan yang dapat ditangkap pelaku usaha. Dalam situasi tekanan yang kian dalam, ia mendorong penguatan koordinasi kebijakan yang lebih solid dan respons yang lebih terkalibrasi untuk menjaga kepercayaan pasar dan dunia usaha.

Ia juga menilai sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi krusial, terutama ketika tekanan eksternal masih kuat dan ruang pelonggaran kebijakan relatif terbatas. Apindo menyatakan dunia usaha tetap berkomitmen menjaga ketahanan, sekaligus menangkap peluang secara selektif dengan pendekatan terukur dan kolaborasi kebijakan yang kuat.

Di sisi lain, Apindo melihat pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap struktur biaya dan arus kas perusahaan, terutama bagi industri yang masih mengandalkan bahan baku impor. Shinta menyebut pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Apindo mencatat sekitar 70% bahan baku manufaktur berasal dari impor, sementara kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55% dalam struktur biaya produksi. Dengan komposisi tersebut, setiap depresiasi rupiah dinilai cepat tercermin pada kenaikan biaya input dalam rupiah, meski tingkat penerusannya ke harga akhir bervariasi bergantung sektor dan kondisi permintaan.

Menurut Shinta, sektor yang paling rentan adalah industri dengan ketergantungan impor tinggi, seperti petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi. Ia mencontohkan kenaikan harga nafta sebagai bahan baku utama industri plastik yang meningkat signifikan dan mendorong kenaikan harga resin hingga puluhan persen, yang kemudian berdampak pada industri kemasan dan sektor hilir lainnya. Kondisi itu disebut menunjukkan adanya tekanan inflasi dari sisi biaya (cost-push) yang berpotensi menular ke rantai pasok lebih luas.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pergerakan rupiah tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi domestik. Ia menilai ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan negara lain di kawasan.

Menurut Purbaya, dinamika rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor global dan pembentukan ekspektasi pasar, termasuk sentimen negatif yang berkembang belakangan. Pemerintah, kata dia, berupaya merapikan berbagai kebijakan untuk mengurangi “noise” yang dapat memicu persepsi negatif terhadap perekonomian.

Ia menambahkan pemerintah fokus memperbaiki kendala di sektor ekonomi, termasuk menutup potensi kebocoran dalam sistem perpajakan serta memastikan kebijakan berjalan lebih efektif. Sejumlah isu yang sebelumnya menimbulkan polemik juga disebut telah dirapikan agar tidak menimbulkan ketidakpastian di pasar.

Purbaya menekankan pentingnya pengelolaan ekspektasi publik dan pelaku pasar. Menurut dia, sentimen negatif dapat memperburuk persepsi terhadap rupiah meskipun kondisi fundamental tidak berubah. Ia juga menegaskan pemerintah tidak melakukan intervensi untuk sengaja melemahkan rupiah demi kepentingan daya saing perdagangan, dan nilai tukar tetap bergerak sesuai fundamental meski dalam jangka pendek dipengaruhi sentimen dan ekspektasi.