Apresiasi sastra merupakan bentuk penilaian atau penghargaan terhadap sebuah karya yang sifatnya individual. Dalam cerpen, apresiasi dapat dilakukan dengan menelaah unsur intrinsik—seperti tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, serta amanat—dan unsur ekstrinsik yang mencakup proses penciptaan, latar belakang penulis, hingga kondisi sosial yang melingkupi karya.
Cerpen “Jen” karya Tiara Sari pernah dimuat di Padang Ekspres pada 7 Februari 2016 dengan judul “Pertemuan di Sore Kelima”. Cerita ini juga tercantum dalam buku kumpulan cerpen berjudul Perempuan - Perempuan Perawat Kenangan.
Tiara Sari lahir di Pariaman pada 14 September 1992. Ia menghabiskan masa kecil hingga SMA di Pariaman, lalu melanjutkan pendidikan di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Padang, Sumatera Barat. Tiara Sari menyukai seni, terutama seni rupa. Sejumlah tulisannya dimuat di Padang Ekspres, Singgalang, dan Haluan, serta ikut tergabung dalam antologi bersama, antara lain Sambah, Ruang Rindu, Sajak-Sajak Anak Negeri, Terakota, GBSI 2015, Cimanuk: Ketika Burung-Burung Kini Telah Pergi, Kopi 1.550 MDPL, dan Aceh 5:03 6,4 SR. Adapun Perempuan - Perempuan Perawat Kenangan disebut sebagai kumpulan cerpen pertamanya.
Dari sisi sosial, cerpen ini dikaitkan dengan situasi masa kini ketika masyarakat mengedepankan kesetaraan gender, termasuk dalam hal menyatakan cinta yang dapat dilakukan baik oleh perempuan maupun laki-laki.
Secara tematik, “Jen” mengangkat romansa kehidupan dengan konflik cinta segitiga antara tokoh Aku, Jen, dan Cein. Kisahnya berangkat dari keberanian Jen yang lebih dulu mengungkapkan perasaan kepada tokoh Aku. Jen menghubungi tokoh Aku dan meminta bertemu pukul 15.00 di kafe Vintage. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan kelima yang diminta Jen untuk membicarakan hubungan asmara. Namun, tokoh Aku sengaja memperlambat kedatangan sehingga Jen menunggu selama 70 menit. Ekspresi Jen berubah menahan marah, tetapi ia tidak melontarkan protes; ia hanya membisu, memesan kopi, dan meminumnya dalam diam.
Di tengah suasana yang menegang, tokoh Aku dilanda kebimbangan: tetap setia pada Cein—gadis yang sudah ia cintai selama tiga tahun tetapi telah menolaknya sepuluh kali—atau membuka hati untuk Jen yang berani menyatakan cinta. Saat waktu menunjukkan pukul 17.00 dan langit mulai menguning, Jen tersenyum manis hingga membuat tokoh Aku memutuskan menerima Jen. Namun, cerita berbalik ketika Jen justru menyampaikan keputusan untuk berhenti mencintai tokoh Aku. Jen kemudian pergi dengan anggun sebelum tokoh Aku sempat mengungkapkan balasan perasaannya.
Dalam analisis tokoh dan penokohan, tokoh utama adalah Aku (laki-laki). Penokohannya digambarkan tidak peduli, pantang menyerah, dan tidak konsisten. Sementara Jen ditampilkan sebagai sosok penyabar, teguh pendirian, dan pemberani, terutama karena ia berinisiatif mengajak lelaki bertemu dan mengungkapkan perasaan. Tokoh Cein digambarkan teguh pendirian karena menolak pernyataan cinta tokoh Aku hingga sepuluh kali. Cein juga disebut memiliki hobi memotret wanita hamil tua dan mengunjungi galeri.
Dari segi alur, cerpen ini menggunakan alur campuran: alur maju tampak pada pertemuan di kafe Vintage, sementara alur mundur muncul ketika tokoh Aku mengingat penolakan Cein terhadap pernyataan cintanya pada malam sebelumnya untuk kesepuluh kalinya.
Latar tempat utama berada di kafe Vintage, dengan latar tambahan berupa teras rumah dan trotoar yang dilalui tokoh Aku. Latar waktu berlangsung pada sore hari, dimulai sekitar pukul 15.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Suasana cerita bergerak dari tegang ketika Jen menunggu lama, menjadi lebih santai ketika percakapan berkembang dan Jen tersenyum, lalu berujung sedih saat perpisahan.
Sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama pelaku utama, ditandai dengan penggunaan kata “Aku” yang menceritakan rangkaian peristiwa.
Amanat yang ditarik dari cerpen ini antara lain bahwa keberanian perempuan untuk menyatakan perasaan patut diapresiasi. Namun, cinta dipandang sebagai fitrah yang tidak bisa dipaksakan; apa pun jawabannya—diterima atau ditolak—perlu disikapi dengan lapang dada.
Dalam penilaian keseluruhan, cerpen “Jen” disebut memiliki kelebihan pada tema yang relevan dengan kehidupan pada masanya, penyajian cerita yang ringkas dan sederhana, serta latar yang runtut sehingga memudahkan pembaca. Adapun kekurangannya adalah penokohan Cein yang dinilai kurang spesifik dan terkesan muncul tiba-tiba, serta alur yang terlalu singkat sehingga menyisakan makna tersirat yang dapat sulit dipahami sebagian pembaca.

