BERITA TERKINI
APUEC 2026 Kembali Digelar Setelah Hampir Satu Dekade, Angkat Kolaborasi Pendidikan Ursulin Asia Pasifik

APUEC 2026 Kembali Digelar Setelah Hampir Satu Dekade, Angkat Kolaborasi Pendidikan Ursulin Asia Pasifik

Asia Pacific Ursuline Education Conference (APUEC) 2026 kembali digelar setelah hampir satu dekade terhenti akibat pandemi Covid-19. Konferensi pendidikan internasional yang berlangsung setiap empat tahun ini akan diikuti 127 peserta dari 15 negara dengan tema “Living Angela’s Spirit, Building Bridges for the Future”.

Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Yayasan Ursulin Indonesia, Sr. Moekti Gondosasmito, OSU, mengatakan konferensi terakhir berlangsung di Taiwan pada 2016. “Karena pandemi Covid-19, pertemuan berikutnya baru bisa terlaksana kembali tahun 2026, artinya hampir sepuluh tahun kegiatan ini terhenti,” ujarnya.

Menurut Sr. Moekti, APUEC menjadi ruang pertemuan lintas negara bagi suster, guru, pimpinan sekolah, dan praktisi pendidikan Ursulin untuk membahas berbagai isu pendidikan. Ia menegaskan karya Ursulin berfokus pada bidang pendidikan, mulai dari PAUD, pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. “Harapannya, dari pertemuan ini lahir relasi, koneksi, dan jembatan kerja sama yang terus hidup di masa depan,” katanya.

APUEC dijadwalkan berlangsung pada 2–6 Maret 2026. Agendanya mencakup sesi refleksi pendidikan, pelatihan bagi pendidik, diskusi lintas negara, serta kunjungan ke sekolah-sekolah Ursulin di Indonesia untuk berbagi praktik pendidikan yang baik.

Salah satu sesi utama akan menghadirkan psikolog Ratih Ibrahim, alumni Santa Ursula Jakarta. Dalam sesi tersebut, ia akan membahas pendekatan komunikasi yang efektif serta cara memahami karakter Generasi Z, yang dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini.

Panitia Perencana APUEC asal Australia, Sr. Leonora Teresa Periga, OSU, menyebut tujuan utama konferensi adalah membangun relasi nyata antarpendidik. Ia berharap peserta dapat memperkuat koneksi lintas negara dan membawa pulang semangat Santa Angela ke komunitas masing-masing.

Sr. Leonora menilai tantangan pendidikan modern muncul di tengah derasnya komunikasi digital. Menurutnya, banyak siswa aktif di media sosial, tetapi tidak selalu memiliki koneksi nyata dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pendidik perlu membantu membangun relasi antarmanusia yang lebih mendalam.

Ia juga menyoroti karakter generasi Z dan generasi Alpha yang lahir dalam dunia digital, memproses informasi secara visual dan cepat, serta terpapar media sosial. Kondisi ini, menurutnya, kerap berkaitan dengan tantangan ketahanan mental, identitas diri, dan budaya perbandingan. Ia menambahkan, di sejumlah negara termasuk Australia, pemerintah mulai membatasi akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun karena meningkatnya kecemasan, gangguan makan, depresi, dan angka bunuh diri.

Selain itu, kemampuan mendengarkan secara mendalam disebut sebagai keterampilan kunci untuk membangun “jembatan masa depan” sebagaimana tema konferensi. Pandangan serupa disampaikan Dr. Wilasa Vichit Vadakan, Panitia Perencana APUEC asal Thailand sekaligus fasilitator konferensi.

Dr. Wilasa menekankan pentingnya fondasi nilai dalam membangun jejaring global. Ia menyebut dalam pendidikan Ursulin, fondasi tersebut berupa semangat pelayanan dan rasa keterhubungan. Di tengah tantangan global seperti pandemi, konflik, dan perubahan sosial yang cepat, ia menilai pendidikan dapat menjadi sumber ketangguhan kolektif. Karena itu, kolaborasi dan koneksi antarpendidik dinilai penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan inklusif, sejalan dengan semangat Santa Angela yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan saling mendukung dalam pendidikan.