Amerika Serikat, China, dan Rusia disebut menguasai sekitar 68% dari total hashrate Bitcoin secara global. Angka ini menggambarkan besarnya porsi kekuatan komputasi jaringan Bitcoin yang terkonsentrasi di tiga negara tersebut.
Hashrate merupakan indikator utama yang menunjukkan total daya komputasi yang digunakan untuk memproses transaksi sekaligus mengamankan jaringan Bitcoin melalui aktivitas penambangan (mining). Semakin tinggi hashrate, semakin besar kapasitas komputasi yang bekerja menjaga sistem.
Dominasi tiga negara ini menyoroti konsentrasi infrastruktur penambangan Bitcoin di wilayah tertentu. Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, seperti biaya energi, regulasi, serta ketersediaan sumber daya dan teknologi.
Amerika Serikat menjadi salah satu pusat utama mining setelah terjadinya perpindahan besar-besaran aktivitas penambangan dari China dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, Rusia juga muncul sebagai pemain penting, didukung akses terhadap energi murah dan kondisi geografis yang dinilai mendukung operasional penambangan.
Meski China sempat melarang aktivitas mining, sebagian operasi disebut masih berkontribusi pada jaringan global, baik melalui relokasi maupun aktivitas yang berjalan secara terbatas.
Konsentrasi hashrate ini menjadi perhatian dalam diskusi mengenai desentralisasi Bitcoin. Semakin terpusat distribusi kekuatan komputasi, semakin besar potensi risiko terhadap aspek keamanan dan independensi jaringan.
Meski demikian, jaringan Bitcoin tetap dirancang untuk beroperasi secara terdesentralisasi. Ribuan node dan penambang di berbagai negara terus berperan menjaga stabilitas sistem.

