Amerika Serikat mengecam apa yang disebutnya sebagai intimidasi China setelah muncul laporan bahwa Beijing menekan sejumlah negara Afrika untuk menggagalkan perjalanan resmi Presiden Taiwan, Lai Ching-te, dengan mencabut izin lintas udara.
Taiwan sebelumnya mengumumkan penundaan rencana kunjungan Presiden Lai ke Eswatini, satu-satunya sekutu diplomatik Taiwan di Afrika. Penundaan itu terjadi setelah Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar secara tiba-tiba mencabut izin terbang bagi pesawat kepresidenan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, dikutip AFP pada Kamis (23/4), menyatakan negara-negara tersebut bertindak atas perintah China dan menilai tindakan itu sebagai campur tangan terhadap keamanan serta martabat perjalanan rutin pejabat Taiwan. AS menyebut peristiwa ini sebagai contoh lain dari kampanye intimidasi Beijing terhadap Taiwan dan para pendukungnya di berbagai negara.
Pemerintah China membantah tudingan Washington. Kementerian Luar Negeri China pada Kamis menyebut pernyataan AS sebagai “tuduhan tak berdasar”. Juru bicara Guo Jiakun mengatakan langkah negara-negara Afrika tersebut merupakan tindakan sah untuk menjaga kedaulatan nasional.
Guo juga menuding AS mengkritik secara tidak bertanggung jawab apa yang ia sebut sebagai tindakan sah China untuk menjaga kedaulatan nasional dan integritas wilayahnya, serta menyatakan kritik itu menyimpang dari fakta.
Beijing turut menyampaikan apresiasi kepada negara-negara Afrika yang memblokir izin lintas udara tersebut, dengan menyatakan tindakan itu sejalan dengan norma dasar hubungan internasional dalam prinsip “Satu China”.
Di sisi lain, meski Washington tetap menjadi pendukung keamanan utama bagi Taiwan, dukungan itu disebut sedikit melunak di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Perubahan nada ini menjadi perhatian menjelang pertemuan yang dijadwalkan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping pada bulan depan.
Sebelumnya, pemerintahan Trump juga dilaporkan sempat menolak izin transit Presiden Lai melalui New York dalam rangkaian perjalanan ke Amerika Latin tahun lalu. Namun, Kementerian Luar Negeri Taiwan membantah adanya pemblokiran tersebut.
Insiden pembatalan penerbangan di Afrika ini disebut menjadi preseden baru dalam tekanan diplomatik China terhadap mobilitas pemimpin Taiwan di tingkat global.