BERITA TERKINI
AS Tinjau Proposal Damai Iran, Tekanan Internasional untuk Buka Selat Hormuz Menguat

AS Tinjau Proposal Damai Iran, Tekanan Internasional untuk Buka Selat Hormuz Menguat

JAKARTA — Amerika Serikat mulai menelaah proposal damai dari Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada saat yang sama, tekanan internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz kian menguat karena jalur pelayaran itu dinilai krusial bagi stabilitas energi dan ekonomi global.

Laporan Al Jazeera yang dipublikasikan Selasa (28/04/2026) menyebutkan tim keamanan nasional Presiden Donald Trump tengah mengkaji rencana dari Iran untuk menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Dalam proposal tersebut, Teheran juga mengusulkan agar pembahasan mengenai program nuklirnya ditunda ke tahap berikutnya.

Di kawasan Teluk, para pemimpin negara-negara Teluk dilaporkan bertemu di Arab Saudi untuk membahas eskalasi konflik. Qatar menegaskan Selat Hormuz tidak boleh dijadikan alat tekanan politik, sekaligus memperingatkan risiko munculnya konflik beku (frozen conflict) yang berkepanjangan jika situasi tidak segera diselesaikan.

Seruan agar jalur pelayaran strategis itu dibuka kembali juga datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta Selat Hormuz dibuka kembali secara “segera dan tanpa hambatan”. Ia memperingatkan kebuntuan antara AS dan Iran di jalur tersebut berisiko memicu krisis pangan global, mengingat sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati kawasan ini.

Namun, di tengah upaya diplomasi, konflik di lapangan belum menunjukkan tanda mereda. Di perbatasan Israel-Lebanon, baku tembak antara Israel dan kelompok Hizbullah masih berlanjut. Sejak kesepakatan gencatan senjata pada 17 April 2026, sedikitnya 40 orang dilaporkan tewas akibat serangan lanjutan, yang mencerminkan rapuhnya upaya de-eskalasi.

Sejumlah media internasional menilai pembukaan Selat Hormuz menjadi faktor kunci untuk meredakan tekanan pasar energi global, sementara konflik yang berlarut dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok global, termasuk pangan dan energi.

Situasi ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan dan meningkatnya risiko geopolitik. Pasar global kini menanti kepastian apakah proposal damai tersebut akan diterima atau justru memperpanjang kebuntuan.

Dengan berbagai kepentingan yang saling bertabrakan—mulai dari isu nuklir, keamanan regional, hingga stabilitas ekonomi global—Selat Hormuz kembali menjadi titik kritis. Jika tidak segera dibuka, dampaknya diperkirakan tidak hanya menekan harga energi, tetapi juga berpotensi meluas pada risiko krisis ekonomi dan pangan berskala global.