Pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 8 Kurikulum Merdeka tidak hanya menuntut siswa membaca cerita, tetapi juga memahami lebih dalam sifat dan karakter tokoh dalam karya fiksi. Salah satu latihan yang diberikan adalah menganalisis watak tokoh melalui cerpen yang dibaca, dengan melihat tindakan, cara berbicara, hingga respons tokoh lain terhadapnya.
Dalam materi tersebut, tokoh dipahami sebagai pelaku dalam sebuah cerita yang secara tidak langsung menuntun pembaca atau penonton untuk memahami sebuah peristiwa. Sementara itu, penokohan adalah cara pengarang menggambarkan karakter tokoh di dalam cerita.
Ada sejumlah cara yang dapat digunakan untuk memahami watak tokoh dalam sebuah cerita. Di antaranya adalah memperhatikan penjelasan langsung pengarang tentang sifat tokoh, mengamati latar kehidupan tokoh (termasuk lingkungan dan cara berpakaian), serta menelaah perilaku tokoh saat menghadapi peristiwa tertentu. Selain itu, pembaca juga dapat memahami watak tokoh lewat cara tokoh mengungkapkan pandangan atau perasaan tentang dirinya, mengikuti alur pikiran dan pertimbangannya saat mengambil keputusan, serta memperhatikan pendapat tokoh lain tentang dirinya.
Watak tokoh juga bisa ditangkap dari cara tokoh lain berbicara dan berinteraksi dengannya, reaksi tokoh-tokoh lain terhadap sikap dan tindakannya, serta bagaimana tokoh tersebut merespons tokoh lain dalam cerita.
Berikut contoh hasil analisis penokohan dalam cerita “Parki dan Alergi Telur” yang disajikan dalam Tabel 4.3.
1. Parki
Identitas: Parki adalah laki-laki, anak sekolah yang diperkirakan duduk di kelas 5 SD dengan usia sekitar 11–12 tahun. Ia berperan sebagai tokoh utama yang mengalami alergi telur, dan informasinya dapat ditemukan pada paragraf 3, 25, dan 32.
Latar belakang/alasan bertindak: Parki sering diberi telur oleh ibunya karena dianggap makanan bergizi. Namun, ia merasa bosan dan kemudian mengalami alergi telur yang membuat matanya bengkak.
Sifat/karakter: Parki digambarkan patuh kepada orang tua meski sebenarnya bosan makan telur. Ia juga jujur dan tidak banyak membantah ketika diperiksa dokter.
2. Ibu Parki
Identitas: Ibu Parki adalah perempuan, seorang ibu rumah tangga, diperkirakan berusia 34–36 tahun. Perannya adalah ibu yang sangat memperhatikan gizi anaknya, dan dapat ditemukan pada paragraf 1, 5, 8, dan 9.
Latar belakang/alasan bertindak: Ibu selalu menyuruh Parki makan telur setiap hari karena percaya telur membuat anak tumbuh sehat dan kuat.
Sifat/karakter: Ibu digambarkan penyayang dan perhatian, tetapi cenderung cemas dan panik ketika melihat Parki sakit. Ia juga keras kepala karena terlalu yakin dengan pendapatnya sendiri.
3. Ayah Parki
Identitas: Ayah Parki adalah laki-laki, diperkirakan berusia 37–39 tahun. Perannya sebagai orang tua yang bersikap tenang dan rasional, dengan informasi terdapat pada paragraf 10, 14, 15, dan 18.
Latar belakang/alasan bertindak: Ayah ingin Parki sehat, tetapi lebih tenang dan logis dalam menghadapi masalah kesehatan anaknya.
Sifat/karakter: Ayah digambarkan tenang, rasional, dan bijaksana. Ia tidak mudah panik serta mampu menenangkan Ibu ketika situasi genting.
Catatan: Jawaban tersebut disajikan sebagai referensi pendamping belajar. Karena soal bersifat analisis, jawaban dapat berbeda sesuai pemahaman siswa.

