Ketegangan geopolitik global kembali meningkat dan memicu kekhawatiran di pasar keuangan. Meski demikian, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang kuat untuk menghadapi dinamika tersebut.
Dalam laporan terbaru, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai stabilitas domestik tetap terjaga berkat dukungan likuiditas yang memadai, disiplin fiskal, serta kebijakan moneter yang adaptif.
BRIDS mencatat eskalasi konflik global, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, berpotensi memicu volatilitas pasar dan mengganggu rantai pasok energi dunia. “Konflik AS–Iran dapat mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi aliran minyak global,” tulis BRIDS dalam laporan bertanggal 2 Maret 2026.
Namun, BRIDS menilai dampak terhadap Indonesia masih dapat dikelola. Menurut laporan tersebut, transmisi risiko terutama terjadi melalui kanal perdagangan dan sektor keuangan yang sudah teridentifikasi.
Likuiditas longgar dinilai menjadi penyangga
Salah satu faktor yang disebut menopang stabilitas ekonomi adalah kebijakan pemerintah memperpanjang penempatan dana SAL sebesar Rp200 triliun hingga September 2026. Langkah ini dinilai membantu menjaga likuiditas perbankan tetap longgar di tengah ketidakpastian global.
Kondisi likuiditas yang terjaga disebut dapat menekan biaya dana serta menjaga stabilitas sektor keuangan. Pertumbuhan jumlah uang beredar dan kredit juga menunjukkan tren positif, yang mencerminkan aktivitas ekonomi domestik masih berjalan.
Meski begitu, BRIDS menilai risiko global tetap ada, terutama dari potensi kenaikan harga energi. Tekanan tersebut dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga global. “Harga energi yang lebih tinggi masih dapat menciptakan tekanan reflasi dan menunda waktu penurunan suku bunga, sehingga kekhawatiran stagflasi kembali muncul,” tulis laporan Macro Strategy BRIDS.
BRIDS juga menilai risiko perlambatan ekonomi global kini lebih terbatas dibanding periode pengetatan moneter sebelumnya, seiring suku bunga global yang telah menurun dari puncaknya pada 2023.
Ruang fiskal dan bantalan eksternal
Dari sisi fiskal, BRIDS menilai posisi Indonesia masih berada dalam koridor aman. Defisit anggaran tercatat di bawah batas 3% terhadap produk domestik bruto, yang mencerminkan konsistensi pengelolaan fiskal.
Rasio utang pemerintah juga disebut relatif rendah dibandingkan negara dengan peringkat setara. Kondisi ini dinilai memberi ruang kebijakan bagi pemerintah untuk merespons dinamika global apabila diperlukan.
Selain itu, cadangan devisa yang stabil serta instrumen kebijakan Bank Indonesia disebut menjadi bantalan tambahan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Di pasar keuangan, BRIDS mencatat sempat terjadi arus keluar dana asing seiring meningkatnya risiko global. “Periode meningkatnya risiko global cenderung menekan pasar negara berkembang, memicu peralihan ke aset aman dan menyebabkan arus keluar asing,” tulis BRIDS.
Namun, dalam konteks Indonesia, tekanan tersebut dinilai masih dapat dikelola tanpa memicu disrupsi besar. BRIDS menyimpulkan kombinasi likuiditas yang kuat, fiskal yang disiplin, serta kebijakan moneter yang responsif menjadi fondasi utama ketahanan ekonomi nasional.

