Di tengah memanasnya perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, China memilih mengambil posisi yang lebih tenang namun terukur. Presiden Xi Jinping pekan ini menyerukan agar Selat Hormuz—jalur pelayaran vital bagi perdagangan dan energi global—kembali dibuka, sekaligus menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada Senin (20/4/2026), Xi menyatakan dukungan Beijing terhadap upaya perdamaian. Ia menyampaikan bahwa China mendukung “semua upaya yang kondusif untuk memulihkan perdamaian” dan berpihak pada penyelesaian sengketa melalui cara politik dan diplomatik.
“Selat Hormuz harus mempertahankan jalur pelayaran normal, karena hal ini melayani kepentingan bersama negara-negara kawasan dan komunitas internasional,” kata Xi, berdasarkan keterangan resmi China yang dikutip Al Jazeera, Kamis (23/4/2026).
Pernyataan Xi tidak menyebut secara langsung pihak-pihak utama dalam konflik. Namun, jalur strategis itu diketahui praktis terhenti selama tujuh minggu terakhir. Iran sebelumnya menutup selat tersebut bagi sebagian besar lalu lintas laut setelah perang dimulai pada 28 Februari, sementara Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran sejak 13 April.
Sikap Xi ini dinilai kontras dengan pendekatan Presiden AS Donald Trump. Pada hari yang sama, Trump menulis di media sosial bahwa ia “memenangkan perang” dan menegaskan blokade laut akan terus berlanjut sampai tercapai kesepakatan dengan Teheran.
Sejumlah analis menilai pendekatan China mencerminkan upaya Beijing memposisikan diri sebagai kekuatan global yang lebih “bertanggung jawab”, sembari tetap berhitung secara strategis. Gedaliah Afterman dari Abba Eban Institute menyebut China “mendapat keuntungan bukan dengan langkah dramatis, tetapi dengan menunggu dan memanfaatkan peluang sambil membiarkan Amerika menangani kekacauan”.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan kebijakan lama China yang menekankan prinsip nonintervensi. Sikap ini diperkuat oleh relasi Beijing yang relatif baik dengan semua pihak yang terlibat atau terdampak konflik.
China tercatat sebagai mitra dagang terbesar Iran dan membeli hingga 90% minyak negara tersebut, menurut Komisi Ekonomi dan Keamanan AS-China. Pada 2021, kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif selama 25 tahun.
Di saat yang sama, Beijing juga mempererat hubungan dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, serta tetap menjadi mitra dagang utama bagi Amerika Serikat dan Israel. “China menjaga hubungan baik dengan AS, Israel, Iran, dan negara-negara Arab Teluk. Semua negara itu adalah teman kami, meskipun mereka saling bermusuhan,” ujar Ma Xiaolin dari Zhejiang International Studies University.
Komitmen nonintervensi juga terlihat ketika China memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan koordinasi internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz. Langkah ini dinilai konsisten dengan sikap China dalam sejumlah konflik lain, termasuk di Suriah dan Myanmar.
Para pengamat menilai fokus utama Beijing di Timur Tengah tetap berada pada kepentingan ekonomi. Chang Ching dari Society for Strategic Studies di Taipei menyatakan bahwa bagi China, stabilitas lebih penting daripada siapa yang menang dalam konflik. “Mereka mengharapkan perdamaian dan stabilitas. Mereka tidak terlalu peduli siapa yang menang. Keinginan mereka adalah memulihkan lingkungan damai di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz,” ujarnya.
Namun, kekhawatiran tetap muncul seiring potensi eskalasi. Feng Chucheng dari Hutong Research memperingatkan bahwa konflik yang memburuk dapat mengancam keamanan energi China, mengingat lebih dari 40% impor minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah. Ia menilai keterlibatan langsung berisiko mengganggu keseimbangan hubungan Beijing dengan Iran dan negara-negara Teluk.
Meski berhati-hati, China tetap aktif melakukan langkah diplomatik. Menteri Luar Negeri Wang Yi dilaporkan melakukan 26 panggilan telepon sejak perang dimulai hingga menjelang gencatan senjata Iran-AS pada 8 April. Sementara utusan khusus Timur Tengah, Zhai Jun, menggelar hampir dua lusin pertemuan dengan berbagai pihak. Xi sendiri juga bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi sebelum berbicara dengan Mohammed bin Salman.
Meski demikian, Beijing disebut meredam perannya dalam membantu tercapainya gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran, berbeda dengan peran aktif China dalam normalisasi hubungan Saudi-Iran pada 2023. Drew Thompson dari S. Rajaratnam School of International Studies menilai China ingin menjadi penengah tanpa menanggung beban penuh proses perdamaian. “Mereka mencoba menjadi pembawa damai tanpa harus menjamin proses perdamaian,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Timur Tengah bukan kepentingan inti China sehingga modal politik yang dapat dikeluarkan Beijing terbatas.
Di sisi lain, sejumlah laporan media menyebut kemungkinan peran China yang lebih besar di balik layar. CNN melaporkan dugaan pengiriman sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) ke Iran, sementara Financial Times menyebut Iran memperoleh satelit mata-mata China pada 2024 untuk menargetkan pangkalan militer AS.
Namun, Jodie Wen dari Universitas Tsinghua meragukan langkah tersebut, terutama menjelang rencana pertemuan Xi dan Trump pada Mei. Menurutnya, bagi pemerintah China, hubungan dengan Iran penting, tetapi hubungan China-AS juga sama pentingnya.
Xi disebut berharap dapat membahas kesepakatan perdagangan dan tarif dengan Trump, yang sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif 50% pada negara yang memasok senjata ke Iran. China juga tengah mempersiapkan KTT China-Arab kedua serta merampungkan perjanjian perdagangan bebas dengan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Afterman menilai kombinasi faktor tersebut membuat China harus sangat berhati-hati dalam menentukan langkah. “China sedang berjalan di atas tali ketika menyeimbangkan hubungannya,” katanya. Ia menambahkan Beijing juga memperhitungkan situasi pascaperang, termasuk peluang rekonstruksi, aktivitas ekonomi baru, dan investasi, agar tetap berada dalam posisi yang menguntungkan di kedua sisi Teluk.