BERITA TERKINI
China Dorong Perundingan Iran dan Pembukaan Selat Hormuz di Tengah Krisis Teluk

China Dorong Perundingan Iran dan Pembukaan Selat Hormuz di Tengah Krisis Teluk

BEIJING — China mulai mengambil langkah diplomatik yang lebih terbuka di tengah krisis di Selat Hormuz. Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyebut adanya keterlibatan Beijing di balik layar dalam meredam ketegangan dengan Iran, kini China secara langsung mendesak Teheran untuk segera kembali ke meja perundingan guna mengakhiri konflik yang berkepanjangan.

Keaktifan diplomasi Beijing terlihat pekan lalu ketika China mengumumkan tujuan tambahan untuk perdamaian Timur Tengah, melengkapi rencana perdamaian lima poin yang telah disusun sebelumnya. Dalam pertemuan dengan negara-negara Teluk, China juga secara eksplisit menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Langkah tersebut berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi dan geopolitik China di kawasan. Dalam laporan yang dikutip dari Newsweek, China memandang situasi ini sebagai kesempatan untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah, sekaligus mengambil peran yang dinilai selama ini sulit dilakukan Gedung Putih, yakni menghentikan perang. Jika berhasil membantu mengakhiri konflik dengan cara yang memuaskan Washington tanpa sepenuhnya mengasingkan Teheran, Beijing berpeluang meraih keuntungan diplomatik besar.

Dari sisi ekonomi, China berada pada posisi yang unik karena merupakan sekutu ekonomi dan diplomatik utama Iran. Sekitar 13 persen pasokan minyak China diyakini berasal dari Teheran. Meski begitu, ekonomi China disebut lebih tangguh menghadapi guncangan energi dibandingkan sejumlah negara lain, salah satunya karena strategi penimbunan cadangan minyak yang dilakukan sejak awal masa jabatan kedua Trump.

Namun, gangguan yang terus terjadi di kawasan Teluk mulai menggerus cadangan energi tersebut. Data terbaru menunjukkan impor minyak dari Teluk turun 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini mendorong Beijing bergeser dari diplomasi yang cenderung pasif menuju peran yang lebih konstruktif dan agresif.

Keberhasilan mendekatkan posisi Washington dan Teheran juga dipandang dapat memperkuat keamanan energi China. Selain itu, capaian diplomatik semacam itu berpotensi menjadi modal penting menjelang kunjungan kenegaraan Trump ke China, yang bertujuan memperbaiki hubungan bilateral kedua negara.

Dalam konteks hubungan China-Iran, salah satu kekuatan Beijing disebut terletak pada jalur komunikasi yang tetap terbuka dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Analis Planet Nine, Tuvia Gering, menilai China kemungkinan berasumsi IRGC akan tetap menjadi kekuatan dominan dalam politik Iran di bawah tokoh-tokoh seperti Mojtaba Khamenei. Menurutnya, hal tersebut menguntungkan Beijing karena China telah melembagakan hubungan dengan IRGC.

Relasi itu juga memiliki dimensi ekonomi. China disebut secara efektif mendanai IRGC melalui pembelian minyak Iran yang dikenai sanksi. Kedekatan ini dinilai memberi Beijing daya tawar untuk menekan faksi-faksi di Teheran agar tetap berada dalam koridor gencatan senjata.

Meski memiliki kedekatan dengan Iran, strategi diplomatik Presiden Xi Jinping digambarkan terukur. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menyatakan Beijing memegang posisi yang objektif dan adil. Ia menegaskan bahwa akar gangguan di Selat Hormuz adalah konflik militer dan, untuk menyelesaikannya, konflik harus dihentikan sesegera mungkin.

China berupaya mendorong solusi diplomatik tanpa terlibat langsung dalam eskalasi militer, tetapi tetap memberikan tekanan halus kepada Teheran. Peneliti Nanyang Technological University Singapura, Adrian Ang, menilai langkah Beijing sejauh ini relatif tidak memakan biaya besar, namun dapat menempatkan China pada posisi tawar yang lebih baik dibandingkan Washington.

Beijing juga disebut meredam kritik terhadap AS dalam beberapa kesempatan, termasuk ketika tidak mengutuk penyitaan kapal kargo Iran Touska oleh militer Amerika baru-baru ini. Sikap tersebut mencerminkan pertimbangan China bahwa hubungan dengan AS tetap menjadi prioritas utama di atas kepentingannya dengan Iran.

Gering menyebut, ketika dipaksa memilih, China akan mengutamakan hubungannya dengan AS karena ketimpangan nilai ekonomi kedua negara bagi Beijing. Dengan adanya agenda keterlibatan tingkat tinggi AS-China, termasuk rencana kunjungan Trump ke Beijing, hierarki prioritas itu dinilai tetap jelas.

Di tengah dinamika tersebut, potensi keberhasilan China dalam mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz sebelum kunjungan Trump bulan depan disebut dapat menjadi kejutan diplomatik besar.