Pemerintah China mengecam tindakan Amerika Serikat (AS) yang menyita kapal kargo Iran di dekat Selat Hormuz. Beijing menilai langkah tersebut bersifat provokatif dan berisiko memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan keprihatinannya atas operasi penyergapan paksa yang dilakukan militer AS. Ia menilai situasi di jalur pelayaran vital itu sedang berada dalam kondisi yang sangat rapuh.
"Kami prihatin atas tindakan penyergapan paksa yang dilakukan AS. Kami berharap pihak terkait dapat menghormati kesepakatan gencatan senjata secara bertanggung jawab dan menghindari tindakan yang memperburuk sengketa," kata Guo dalam konferensi pers di Beijing, Senin (20/4/2026).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi pasukan komando AS telah menaiki kapal kargo Touska berbendera Iran di Teluk Oman pada Minggu (19/4) dan melumpuhkan sistem navigasinya. AS berdalih kapal tersebut berupaya menghindari blokade laut yang diterapkan Washington.
Guo menegaskan kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz merupakan kepentingan internasional. Ia juga menyerukan agar semua pihak kembali pada semangat deeskalasi sesuai empat poin usulan Presiden Xi Jinping.
"Setelah jendela peluang menuju perdamaian terbuka, situasi kondusif perlu diciptakan guna mengakhiri konflik sesegera mungkin," ujarnya.
Perkembangan ini muncul di tengah masa kritis gencatan senjata dua minggu yang disebut akan berakhir pada 22 April 2026. Di saat yang sama, Trump menyampaikan pernyataan yang dinilai provokatif terkait kemungkinan berakhirnya masa gencatan senjata tersebut.
Trump juga menyatakan telah mengirim delegasi ke Islamabad, Pakistan. Namun, Iran menutup pintu dialog. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan negaranya tidak berencana menggelar perundingan baru di bawah tekanan.
"Republik Islam Iran tidak menerima batas waktu atau ultimatum apa pun dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya," tegas Baqaei, Minggu (19/4).
Senada, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai ancaman AS terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran menunjukkan Washington tidak serius menempuh jalur diplomasi.