BERITA TERKINI
Dampak Konflik Iran-AS Menekan Ekonomi Global, Harga Energi Picu Inflasi dan Kekhawatiran Resesi

Dampak Konflik Iran-AS Menekan Ekonomi Global, Harga Energi Picu Inflasi dan Kekhawatiran Resesi

Dampak perang antara Iran dan Amerika Serikat kian terasa pada perekonomian global. Guncangan harga energi mulai menekan aktivitas bisnis, mendorong inflasi, dan meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Survei terbaru S&P Global, seperti dilaporkan Reuters, menunjukkan tekanan meluas tidak hanya di sektor manufaktur, tetapi juga merambah sektor jasa. Kenaikan tajam biaya produksi akibat lonjakan harga energi menjadi faktor utama yang melemahkan aktivitas ekonomi di berbagai kawasan.

Eropa paling terpukul

Kawasan euro mencatat kontraksi aktivitas bisnis. Indeks PMI gabungan turun dari 50,7 pada Maret menjadi 48,6 pada April, berada di bawah ambang batas 50 yang menandakan kontraksi. Lonjakan biaya input juga menonjol, tercermin dari indeks harga produksi yang naik tajam.

Pelemahan turut terjadi pada sektor jasa yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi Eropa, menandakan tekanan yang semakin luas. “Zona euro menghadapi tekanan ekonomi yang semakin dalam akibat perang di Timur Tengah,” kata Chris Williamson, kepala ekonom bisnis di S&P Global.

AS lebih tangguh, tetapi bukan tanpa risiko

Di Amerika Serikat, aktivitas ekonomi masih menunjukkan ekspansi. PMI manufaktur naik ke 54,0, tertinggi dalam hampir empat tahun, sementara sektor jasa kembali tumbuh ke 51,3.

Namun, peningkatan ini dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi. Kenaikan disebut didorong oleh aksi panic buying dan percepatan produksi untuk mengantisipasi gangguan pasokan. Tekanan harga juga meningkat, dengan biaya input dan harga output naik ke level tertinggi sejak gangguan rantai pasok pascapandemi.

Perusahaan mulai merasakan dampak

Konflik juga tercermin dalam peringatan dari sejumlah korporasi global terkait gangguan operasional dan tekanan keuangan. Dari sekitar 166 perusahaan yang ditinjau, 26 perusahaan memangkas atau menarik proyeksi kinerja, 38 mengisyaratkan kenaikan harga, dan 32 memperingatkan dampak finansial akibat perang.

Sejumlah perusahaan, termasuk Danone dan Otis Worldwide, melaporkan gangguan pengiriman yang dikaitkan dengan disrupsi rantai pasok. Di beberapa negara seperti Jepang, India, dan Inggris, aktivitas manufaktur justru meningkat karena perusahaan mempercepat produksi untuk mengantisipasi gangguan lebih lanjut, sebuah fenomena yang dikenal sebagai front-loading. Namun, strategi ini berisiko diikuti perlambatan lebih tajam pada periode berikutnya ketika permintaan mulai melemah.

AI menjadi penopang di tengah tekanan

Di tengah tekanan global, sektor teknologi—khususnya yang terkait kecerdasan buatan (AI)—masih menjadi penopang. Lonjakan investasi AI mendorong permintaan chip dan membantu menopang pertumbuhan di negara seperti Korea Selatan. Sektor keuangan juga disebut diuntungkan dari volatilitas pasar yang tinggi, yang meningkatkan aktivitas perdagangan.

Risiko resesi mengintai

Ketidakpastian terbesar tetap berasal dari potensi gangguan pasokan energi, terutama jika konflik terus menghambat jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz. International Monetary Fund (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1% tahun ini dan memperingatkan risiko skenario yang lebih buruk, termasuk potensi resesi jika gangguan berlanjut.

Pengalaman dari krisis energi sebelumnya—mulai dari Perang Yom Kippur hingga invasi Rusia ke Ukraina—menunjukkan dampaknya dapat bertahan bertahun-tahun, memengaruhi inflasi, investasi, dan produksi energi. Secara keseluruhan, ekonomi global dinilai berada dalam fase rapuh: masih bertahan, tetapi semakin tertekan oleh kombinasi lonjakan harga energi, gangguan pasokan, dan ketidakpastian geopolitik.