Tim pengabdian masyarakat dosen Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) memperkuat diplomasi pendidikan Indonesia dan Malaysia melalui pengenalan kearifan lokal dalam pembelajaran multikultural di Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur.
Ketua tim pengabdian masyarakat UMPR, Nurun Ni’mah, mengatakan sekolah Indonesia di luar negeri memiliki peran strategis untuk memperkuat identitas budaya generasi muda Indonesia sekaligus menjadi sarana diplomasi pendidikan. Menurutnya, pembelajaran berbasis kearifan lokal memberi kesempatan kepada siswa untuk tidak hanya mempelajari budaya secara teoritis, tetapi juga mengalami nilai-nilai budaya Indonesia melalui aktivitas belajar yang interaktif.
Program pengabdian ini dilaksanakan oleh tim dosen UMPR yang berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMBJM). Kegiatan tersebut melibatkan guru dan siswa di Sanggar Belajar Kampung Baru, Kuala Lumpur, yang merupakan bagian dari Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.
Dalam program ini, kekayaan budaya Kalimantan Tengah diangkat sebagai sumber pembelajaran. Sejumlah nilai budaya diperkenalkan kepada siswa, di antaranya falsafah Huma Betang, tradisi Gawi Hatantiring, serta permainan tradisional Balogo. Materi disampaikan melalui metode pembelajaran interaktif yang memanfaatkan teknologi digital.
Ni’mah menilai, di tengah arus globalisasi, generasi muda yang tinggal di luar negeri kerap lebih akrab dengan budaya global dibandingkan budaya daerah Indonesia. Karena itu, tim pengabdian mengembangkan media pembelajaran inovatif seperti Virtual Reality (VR), flipbook digital, dan video edukatif budaya yang menampilkan kehidupan masyarakat serta nilai budaya Kalimantan Tengah.
Melalui teknologi tersebut, siswa dapat merasakan pengalaman belajar, misalnya menjelajahi rumah betang secara virtual atau memahami filosofi gotong royong dalam tradisi lokal. Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan bagi guru untuk meningkatkan kemampuan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran multikultural, sehingga materi budaya tidak hanya menjadi tambahan, tetapi dapat terhubung dengan berbagai mata pelajaran.
Menurut Ni’mah, hasil kegiatan menunjukkan integrasi budaya lokal dengan teknologi digital dapat menjadi strategi efektif untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada generasi muda yang hidup di lingkungan internasional. Ia juga menyebut kegiatan ini turut memperkuat peran Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur sebagai pusat diplomasi pendidikan Indonesia di Malaysia, karena siswa tidak hanya belajar tentang identitas bangsa, tetapi juga berperan sebagai duta budaya.
Program tersebut didukung oleh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta melibatkan dosen dari berbagai program studi di UMPR dan UMBJM. Ke depan, tim berharap model pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat diterapkan lebih luas di berbagai sekolah Indonesia di luar negeri maupun sekolah dengan lingkungan multikultural.
“Integrasi budaya dalam pendidikan tidak hanya penting untuk melestarikan warisan budaya, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat global,” kata Nurun Ni’mah.

