BRUSSELS, 17 Maret 2026 — Para menteri luar negeri Uni Eropa menggelar pertemuan darurat di Brussels pada Senin (16/3/2026) untuk merespons pernyataan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menekan sekutu-sekutu NATO agar ikut mengamankan kembali Selat Hormuz yang diblokade Iran.
Trump memperingatkan masa depan NATO akan “sangat buruk” jika negara-negara anggota tidak membantu membuka kembali jalur perdagangan minyak strategis tersebut di tengah konflik AS-Israel melawan Teheran. Dalam laporan FRANCE 24 yang ramai dibagikan di platform X, Trump disebut menuntut negara-negara sekutu, termasuk anggota NATO, mengirim kapal perang guna memulihkan akses di Selat Hormuz, jalur yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Tekanan itu muncul setelah harga minyak global melonjak tajam, menyusul serangan balasan Iran yang menyasar kapal tanker dan infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia.
Namun, dalam pertemuan di Brussels, sikap negara-negara Eropa cenderung berhati-hati dan menolak keterlibatan militer langsung. Menteri Luar Negeri Jerman menegaskan NATO tidak memiliki mandat atau keputusan untuk mengambil tanggung jawab atas Selat Hormuz. “Saya tidak melihat NATO membuat keputusan ke arah itu,” ujarnya, seraya menekankan prioritas diplomasi.
Di sisi lain, Uni Eropa disebut sedang menjajaki opsi untuk memperluas mandat misi angkatan laut Operation Aspides. Misi tersebut sebelumnya difokuskan di Laut Merah untuk melindungi kapal dari serangan Houthi, dan kini dipertimbangkan untuk diperluas ke wilayah Teluk Persia.
Rencana itu belum sepenuhnya diterima. Beberapa negara anggota, termasuk Spanyol dan Italia, menyatakan penolakan karena khawatir mandat misi akan bergeser ke ranah konflik aktif.
Menteri Luar Negeri Luksemburg Xavier Bettel menyatakan dukungan Eropa lebih mungkin diberikan dalam bentuk bantuan non-tempur. “Kami siap membantu dengan satelit dan komunikasi, tapi jangan minta pasukan dan kapal perang,” kata Bettel.
Inggris juga menyatakan komitmen pada upaya de-eskalasi dan menyampaikan keengganan untuk terseret ke perang yang lebih luas, meski tetap membuka peluang bekerja sama dalam rencana kolektif yang dinilai layak. “Kami ingin tahu rencana akhir dan kapan konflik ini berakhir,” ujar perwakilan Inggris.
Di media sosial, khususnya pada unggahan FRANCE 24 di X, respons publik menunjukkan skeptisisme tinggi terhadap dorongan keterlibatan militer Eropa. Sejumlah komentar menyebut konflik tersebut bukan perang NATO, melainkan perang AS-Israel, serta menolak kemungkinan Eropa terseret lebih jauh.
Konflik yang memasuki pekan ketiga telah memicu lonjakan harga energi global. Situasi itu menambah tekanan bagi Eropa untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan upaya menghindari eskalasi militer lebih lanjut.

