BERITA TERKINI
Ekonomi Sirkular Dinilai Kian Penting bagi Manufaktur Asia Tenggara di Tengah Ancaman Pemanasan Global

Ekonomi Sirkular Dinilai Kian Penting bagi Manufaktur Asia Tenggara di Tengah Ancaman Pemanasan Global

Isu pemanasan global disebut tidak lagi sebatas wacana lingkungan, melainkan telah menjadi tantangan nyata bagi dunia usaha. Kondisi ini mendorong sektor manufaktur di Asia Tenggara untuk beradaptasi lebih cepat, termasuk dalam cara mengelola material dan limbah.

Salah satu pendekatan yang semakin banyak didorong adalah ekonomi sirkular, yakni konsep yang menekankan agar material tidak langsung berakhir sebagai limbah, tetapi dapat terus digunakan kembali dalam satu siklus. Dengan pendekatan ini, tekanan terhadap lingkungan diharapkan dapat diminimalkan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Di tengah isu tersebut, ALVAboard menyatakan ikut mengambil peran dengan mendorong pengelolaan material yang lebih bertanggung jawab. Perusahaan ini menekankan bahwa upaya tersebut bukan hanya berhenti pada produksi kemasan, tetapi juga memastikan produk yang digunakan dapat kembali ke sistem dan tidak berakhir menjadi sampah.

CEO ALVAboard, Alden Lukman, mengatakan perubahan cara pandang terhadap plastik menjadi hal penting yang perlu dilakukan saat ini. Menurut dia, narasi perlu bergeser dari sekadar mengurangi plastik menjadi mengelola siklus plastik.

“Kita perlu mengubah narasi dari sekadar ‘mengurangi plastik’ menjadi ‘mengelola siklus plastik’. Tanggung jawab industri tidak berhenti saat produk digunakan, tapi juga memastikan material tersebut bisa kembali diproses jadi sumber daya baru,” ujarnya kepada wartawan, Senin (20/4/2026).

Alden menjelaskan, pihaknya berupaya menerapkan prinsip tersebut melalui desain produk yang dapat dipakai berulang kali dan didaur ulang sepenuhnya. Langkah ini dinilai penting untuk menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Ia juga menyebut penerapan sistem logistik terbalik untuk memastikan material yang telah dipakai dapat kembali ke rantai produksi. “Melalui sistem logistik terbalik, kami ingin memastikan setiap material yang sudah dipakai bisa kembali ke rantai produksi. Ini bukan cuma soal sampah, tapi bagaimana menciptakan nilai baru dari material yang sebelumnya dianggap habis pakai,” kata Alden.

Selain itu, ALVAboard menyatakan memanfaatkan sistem digital untuk memantau perjalanan material secara lebih transparan. Menurut Alden, hal ini diperlukan agar upaya keberlanjutan dapat diukur dan tidak berhenti pada klaim semata.

“Dengan sistem digital, kami bisa melihat perjalanan material secara lebih transparan. Ini penting supaya upaya keberlanjutan tidak sekadar klaim, tapi benar-benar terukur,” tambahnya.

Dalam konteks Asia Tenggara, Alden menilai pendekatan ekonomi sirkular semakin relevan karena wilayah ini merupakan salah satu pusat manufaktur dunia dan menghadapi tantangan besar terkait limbah serta emisi industri. Ia menekankan perlunya kolaborasi antara industri, teknologi, dan masyarakat agar ekonomi sirkular dapat berjalan efektif.