Kinerja ekspor Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada awal 2026 mengalami penurunan tajam. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kumulatif Januari–Februari 2026 sebesar US$777,73 juta, turun 34,61% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Sumsel Mohammad Wahyu Yulianto menjelaskan, penurunan tersebut terutama dipicu melemahnya ekspor sektor nonmigas, khususnya komoditas pertambangan dan bahan bakar mineral. “Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh turunnya ekspor nonmigas, terutama dari sektor pertambangan,” kata Wahyu, Jumat (3/4/2026).
Secara rinci, ekspor nonmigas tercatat turun 36,14% dari US$1.116,34 juta menjadi US$712,84 juta. Sementara itu, ekspor migas juga menurun 11,21% dari US$73,08 juta menjadi US$64,89 juta.
Penurunan terdalam terjadi pada sektor pertambangan yang anjlok 60,42% dari US$493,49 juta menjadi US$195,31 juta. Kondisi ini mencerminkan tingginya ketergantungan ekspor Sumsel terhadap komoditas energi yang dipengaruhi dinamika pasar global.
Di tengah tekanan tersebut, sektor industri pengolahan tetap menjadi penopang utama ekspor Sumsel dengan nilai US$500,12 juta. Namun, nilainya juga turun 17,17% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat ekspor US$17,41 juta atau turun 8,53%.
Dari sisi komoditas, karet dan produk turunannya masih menjadi kontributor terbesar dengan pangsa 29,03%, meski nilainya turun menjadi US$206,97 juta. Sebaliknya, pulp dari kayu mencatat pertumbuhan 4,01% menjadi US$204,08 juta, sehingga menjadi salah satu komoditas yang relatif bertahan.
Adapun bahan bakar mineral mengalami penurunan paling tajam hingga 60,42%, seiring melemahnya permintaan global. Wahyu menyebut fluktuasi ekspor sangat dipengaruhi harga dan permintaan pasar internasional, terutama untuk komoditas utama seperti batu bara. “Ekspor kita sangat tergantung pada kondisi global. Saat permintaan turun, dampaknya langsung terasa,” ujarnya.
Dalam situasi ini, pemerintah didorong untuk memperkuat diversifikasi pasar dan komoditas agar kinerja ekspor tidak terlalu bergantung pada sektor tertentu.

