BERITA TERKINI
Eskalasi AS–Israel dan Iran Picu Kekhawatiran Resesi Global, Harga Minyak Brent Tembus US$107

Eskalasi AS–Israel dan Iran Picu Kekhawatiran Resesi Global, Harga Minyak Brent Tembus US$107

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran kian meluas dampaknya, tidak hanya sebagai isu geopolitik tetapi juga menjadi tekanan serius bagi perekonomian dunia. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, apabila konflik berlanjut dan harga energi bertahan tinggi, pertumbuhan ekonomi global berisiko turun hingga sekitar 2%—tingkat yang secara historis kerap dikaitkan dengan fase resesi global.

Dalam skenario moderat, IMF memproyeksikan ekonomi global pada 2026 hanya tumbuh 2,5%, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelum ketegangan memanas. Perlambatan ini menempatkan perekonomian dunia dalam zona rawan krisis, seiring meningkatnya tekanan biaya dan ketidakpastian pasar.

Lonjakan harga energi menjadi pemicu utama meningkatnya risiko ekonomi. Harga minyak mentah Brent tercatat menembus US$107 per barel setelah dalam beberapa pekan terakhir naik sekitar 17%, sementara WTI meningkat 13%. Kenaikan terjadi di tengah mandeknya negosiasi damai dan meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.

Salah satu titik yang menjadi perhatian pasar adalah Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini dinilai dapat langsung memicu gejolak harga. Dalam skenario terburuk, harga minyak diproyeksikan dapat menembus kisaran US$110 hingga US$125 per barel, level yang mengingatkan pada krisis energi besar pada era 1970-an.

Dampak konflik juga merembet ke rantai pasok global. Produksi minyak di kawasan Timur Tengah dilaporkan turun hingga 10 juta barel per hari, memicu gangguan distribusi energi dan logistik. Pada saat bersamaan, sekitar 70% impor pangan di kawasan Teluk ikut terdampak.

Akibat gangguan tersebut, harga kebutuhan pokok dilaporkan melonjak tajam, bahkan mencapai 40% hingga 120% di sejumlah wilayah terdampak. Tekanan ini turut memengaruhi distribusi barang global, industri manufaktur, dan sektor transportasi, yang pada akhirnya mempercepat kenaikan harga barang secara lebih luas.

Kombinasi kenaikan harga dan perlambatan ekonomi memperbesar risiko stagflasi, yakni kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan yang melemah. Dalam situasi ini, inflasi terdorong oleh kenaikan energi dan pangan, sementara bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga pada level tinggi. IMF menilai kondisi tersebut dapat memicu pengetatan keuangan global yang berisiko menekan investasi dan meningkatkan pengangguran.

Tekanan ekonomi tidak hanya terasa pada pasar keuangan, tetapi juga berpotensi langsung menghantam masyarakat. Lonjakan harga minyak dunia dapat mendorong kenaikan harga BBM dan membebani anggaran subsidi energi di negara importir seperti Indonesia. Gangguan rantai pasok juga berisiko meningkatkan inflasi pangan, sementara daya beli dapat melemah karena kenaikan harga tidak selalu diimbangi pertumbuhan pendapatan. Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar berpotensi muncul seiring meningkatnya kebutuhan impor energi.

IMF menilai kawasan Asia termasuk yang paling rentan terdampak karena ketergantungan yang tinggi pada impor energi. Kenaikan biaya energi dapat meningkatkan biaya produksi, mendorong naiknya harga barang ekspor, dan menekan daya saing industri. Negara berkembang di kawasan ini juga menghadapi risiko arus keluar modal (capital outflow) yang dapat memperburuk stabilitas ekonomi.

Di tengah volatilitas, strategi investasi disebut mulai bergeser. Sektor energi dan komoditas dipandang diuntungkan oleh lonjakan harga minyak dan bahan baku. Sebaliknya, sektor konsumsi non-esensial dinilai perlu diwaspadai karena pelemahan daya beli dapat menekan kinerja ritel, otomotif, dan pariwisata. Investor juga disarankan lebih berhati-hati terhadap pasar negara berkembang yang rentan terhadap tekanan eksternal, sementara sektor seperti perbankan besar, kebutuhan pokok (consumer staples), dan infrastruktur dinilai relatif lebih stabil dalam menghadapi gejolak.

IMF menilai krisis energi kali ini lebih kompleks karena dampaknya terjadi secara simultan pada berbagai sektor. Sejumlah negara produsen energi seperti Amerika Serikat disebut berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga, sementara negara yang bergantung pada impor energi menghadapi tekanan lebih berat. Di sisi lain, kondisi ini juga dinilai dapat mempercepat transisi menuju energi terbarukan di berbagai negara.

Secara keseluruhan, konflik di Timur Tengah kini dipandang telah berkembang menjadi tekanan ekonomi global yang memengaruhi harga energi, inflasi, dan stabilitas pasar keuangan. Jika eskalasi berlanjut, dunia tidak hanya menghadapi risiko resesi, tetapi juga potensi perubahan besar dalam struktur ekonomi global, dengan dampak yang mulai terasa melalui kenaikan harga dan tekanan terhadap daya beli.