BERITA TERKINI
Eskalasi Konflik Iran–Israel dan Risiko Krisis Global: Dampak Selat Hormuz hingga Strategi Keuangan Kelas Menengah

Eskalasi Konflik Iran–Israel dan Risiko Krisis Global: Dampak Selat Hormuz hingga Strategi Keuangan Kelas Menengah

Eskalasi konflik Iran–Israel dan ketegangan di kawasan Teluk dinilai berpotensi meluas menjadi krisis global. Meski secara geografis terasa jauh, dampaknya dapat menjalar ke berbagai negara ketika menyentuh jalur energi dan logistik dunia.

Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, rute strategis yang disebut menjadi jalur bagi setidaknya 20% distribusi minyak dunia dan berada di bawah teritori Iran. Dalam skenario ketika Iran menutup selat tersebut, lalu lintas kapal berisiko terhambat. Kapal tanker yang hendak melintas dapat tertahan di sekitar selat, memicu kenaikan premi risiko, membengkaknya ongkos logistik, serta naiknya biaya asuransi kapal akibat situasi perang. Perusahaan juga dapat mencari rute alternatif yang lebih aman, namun konsekuensinya biaya perjalanan bertambah.

Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan biaya energi dan logistik, yang kemudian berimbas pada harga barang. Gambaran ini dinilai relevan bagi Indonesia, mengingat Indonesia disebut sebagai importir net minyak. Jika distribusi minyak tersendat, kelangkaan bisa terjadi dan harga energi dalam negeri berpotensi naik.

Di saat bersamaan, Indonesia juga menghadapi inflasi musiman menjelang Ramadan dan Lebaran. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Februari 2026 sebesar 0,68% secara bulanan (month-to-month) dan inflasi tahunan mencapai 4,76% (year-on-year).

Dalam situasi ketidakpastian, respons masyarakat menjadi penting. Memborong minyak atau kebutuhan pokok dalam jumlah besar dinilai bukan langkah bijak. Namun, menganggap situasi akan selalu terkendali juga berisiko karena dapat memicu kepanikan ketika kondisi memburuk. Karena itu, diperlukan strategi untuk mengurangi kerentanan finansial, terutama bagi kelas menengah, agar tidak terpukul ketika harga energi naik dan inflasi musiman meningkat.

Pertama, menata dan menyelamatkan arus kas. Masyarakat disarankan meninjau pengeluaran yang tampak kecil namun bisa memicu pemborosan, seperti langganan platform streaming, aplikasi, atau belanja online. Langganan yang tidak mendesak dapat dihentikan sementara. Pemangkasan 10% hingga 15% pengeluaran selama satu hingga dua bulan disebut dapat menciptakan ruang napas.

Kedua, menahan keputusan yang boros bahan bakar. Karena konflik terkait erat dengan energi dan logistik, aktivitas yang sering menggunakan kendaraan pribadi untuk keperluan kecil dinilai dapat memperbesar pengeluaran. Alternatifnya adalah menyatukan agenda, memprioritaskan rute perjalanan, mempertimbangkan berjalan kaki untuk jarak dekat, atau menggunakan transportasi umum untuk jarak lebih jauh.

Ketiga, membatasi penggunaan layanan utang seperti pinjaman online, kartu kredit, dan paylater. Layanan ini disarankan hanya digunakan bila arus kas sudah lancar dan disiplin, serta tidak dipakai untuk menutup utang lain. Dalam situasi biaya hidup naik, konsumsi berbasis utang dapat menjadi jebakan, terlebih ketika bunga layanan meningkat tanpa disadari. Jika pendapatan tidak lagi cukup untuk kebutuhan rutin sementara cicilan tetap berjalan, kondisi arus kas dinilai perlu dievaluasi.

Keempat, menghindari instrumen trading yang volatilitasnya tinggi. Instrumen seperti saham, kripto, dan forex disebut dapat memicu tekanan psikologis karena fluktuasinya tajam, terutama bagi yang bukan trader dengan manajemen risiko kuat. Keramaian di media sosial juga dinilai dapat memicu FOMO dan praktik “pompom”. Fokus disarankan diarahkan pada penguatan pondasi, termasuk likuiditas dan diversifikasi, seperti emas atau reksadana, karena ketidakpastian durasi konflik.

Kelima, mempertebal bantalan pengeluaran melalui tabungan dan dana darurat. Keberadaan dana darurat dinilai membantu menghindari perilaku berutang ketika menghadapi risiko seperti sakit, kendaraan rusak, atau pendapatan terganggu. Biaya proteksi seperti asuransi atau BPJS juga disebut dapat mengurangi beban pengeluaran ketika menghadapi kondisi yang tidak diinginkan.

Keenam, bagi masyarakat muslim, menyiapkan Lebaran secara realistis. Perencanaan mudik disarankan dilakukan sejak awal dan tidak ditunda. Kebutuhan dapat dibeli lebih jauh hari dalam jumlah wajar sesuai kebutuhan. Pengeluaran sosial yang sering tidak terasa—seperti titipan oleh-oleh, traktir teman atau saudara, serta pengeluaran lain yang tidak wajib—disarankan dibatasi agar perayaan tidak identik dengan sikap boros.

Di tengah konflik global dan potensi tekanan inflasi, kepanikan dinilai dapat memperburuk ketahanan hidup. Sebaliknya, sikap tenang dan keputusan keuangan yang bijak dianggap membantu masyarakat menata prioritas, menjaga stabilitas keuangan, dan menahan pengeluaran yang tidak perlu.