BERITA TERKINI
Narasi Sawit Disebut Bisa Menyelamatkan RI Saat Krisis Minyak Global, Ekonom: Tetap Butuh Impor BBM

Narasi Sawit Disebut Bisa Menyelamatkan RI Saat Krisis Minyak Global, Ekonom: Tetap Butuh Impor BBM

Sebuah unggahan di media sosial Instagram menyebut komoditas sawit Indonesia menjadi penting setelah konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran pecah pada pekan lalu. Dalam unggahan itu, sawit dinarasikan dapat menjadi solusi ketika pasokan atau harga minyak dunia terganggu akibat situasi di Timur Tengah.

Unggahan dari akun Instagram @ben****** pada Selasa (3/3/2026) menuliskan, “Konflik di Timur Tengah jadi bukti kalau sawit adalah kunci! Seolah-olah sawit cuma komoditas murah, bahan ekspor biasa, atau sekadar isu ekonomi domestik. Padahal masalahnya jauh lebih besar dari itu.”

Data Foreign Agricultural Service United States Department of Agriculture (USDA) periode 2024–2025 menunjukkan Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Volume produksi minyak sawit Indonesia disebut mencapai 46 juta ton per tahun, sekitar dua kali lipat dari Malaysia.

Namun, ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai narasi bahwa sawit dapat mengatasi potensi krisis minyak tidak serta-merta tepat. Ia menyatakan Indonesia masih akan membutuhkan impor bahan bakar minyak (BBM) meski memanfaatkan sawit untuk energi, karena penggunaannya tetap memerlukan pencampuran dengan BBM.

“Kalau sawit mungkin problematis karena tetap mencampur dengan BBM. Blending tetap butuh impor BBM, disitu letak masalahnya,” kata Bhima saat dihubungi pada Selasa (3/3/2026).

Selain aspek ketergantungan impor, Bhima juga menyoroti konsekuensi lingkungan dari pemanfaatan dan ekspansi sawit. Ia menyinggung banjir di Sumatera sebagai indikasi yang menurutnya terkait perubahan daerah serapan air akibat ekspansi perkebunan sawit.

“Banjir sumatera kemarin, indikasi sumber masalahnya ada di ekspansi perkebunan sawit sehingga merubah daerah serapan air,” ujarnya.

Bhima juga menyampaikan kekhawatiran bahwa ekspansi sawit, termasuk di Papua, dapat memicu konflik lahan baru dan deforestasi. Ia menambahkan, sebagian izin perusahaan yang dicabut juga berkaitan dengan aktivitas perkebunan sawit.

Di sisi lain, Bhima menilai potensi krisis minyak justru dapat menjadi momentum untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan. Ia mencontohkan dorongan elektrifikasi di sektor transportasi dan logistik, serta pembangkit listrik yang sebagian masih bergantung pada BBM solar.

“Idealnya dapat mendorong elektrifikasi dalam transportasi dan logistik. Begitu juga di sektor pembangkit listrik yang sebagian masih bergantung BBM solar,” katanya.

Bhima menyebut potensi energi terbarukan, seperti panel surya 100 GW, dapat membantu menekan beban subsidi energi. Ia juga menyinggung potensi energi angin sebesar 154,6 GW dan energi air 89,3 GW. “Teknologinya tersedia, sumber daya manusianya ada, tinggal kebijakan dari pemerintah,” ujar Bhima.

Kekhawatiran terhadap gejolak harga minyak turut menguat setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Selat Hormuz di kawasan Teluk Arab merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi, menjadi penghubung utama distribusi minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara, sekaligus jalur vital bagi pasar energi global.

Penutupan jalur tersebut diperkirakan dapat berdampak luas terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia, terutama melalui pengaruhnya terhadap pasokan dan harga minyak dunia.