Tekanan ekonomi global kembali menjadi sorotan seiring memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Konflik tersebut disebut mengganggu aktivitas perdagangan dunia, terutama komoditas energi, sehingga harga minyak mentah melonjak dan ikut menekan laju pertumbuhan ekonomi global.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 melambat menjadi 3,0% dari prakiraan sebelumnya 3,1%. Inflasi global juga diprakirakan lebih tinggi menjadi 4,2% dari perkiraan 4,1%, yang dinilai mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global.
Di tengah situasi tersebut, muncul fenomena penerapan hidup hemat secara finansial atau financial minimalism di Indonesia. Hal ini disorot oleh Teresia Angelia Kusumahadi, dosen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, dalam tulisannya berjudul Krisis melanda, tak ada salahnya ngirit tapi tidak pelit ala 'financial minimalism' yang terbit di The Conversation pada Jumat (24/4/2026).
Teresia menilai tekanan ekonomi global berpotensi merambat ke Indonesia. Salah satu indikator yang ia sebut adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang meningkat signifikan. Contohnya, Pertamax Turbo (RON 98) dibanderol Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100 per liter, sementara Dexlite menjadi Rp23.600 per liter dari sebelumnya Rp14.200 per liter.
Menurutnya, ketika harga BBM naik tinggi, harga bahan pokok berpeluang ikut terdorong karena proses distribusi membutuhkan transportasi. Dalam kondisi seperti itu, ia menilai hidup irit tidak menjadi masalah selama tidak jatuh pada sikap “pelit”, melainkan dilakukan melalui penerapan gaya hidup minimalis.
Teresia menjelaskan, financial minimalism pada dasarnya adalah cara hidup yang menekankan pembedaan antara kebutuhan dan keinginan. Untuk menerapkannya, seseorang perlu memahami kebutuhan yang benar-benar diperlukan dan esensial, lalu menyingkirkan hal-hal yang dianggap kurang penting atau berpotensi menimbulkan ketergantungan.
Ia menekankan bahwa minimalisme adalah kebalikan dari konsumerisme dan berfokus pada pemenuhan kebutuhan yang berkualitas. Menurutnya, hidup minimalis bukan berarti hidup seirit mungkin hingga mengorbankan kesejahteraan. Konsep ini lebih menekankan konsumsi yang berkelanjutan, bermanfaat dalam jangka panjang, serta memberi ruang bagi hal-hal yang lebih penting seperti kesehatan dan kesejahteraan.
Berikut sejumlah cara yang ditawarkan Teresia untuk menerapkan prinsip financial minimalism dalam kehidupan sehari-hari.
1. Mengurangi konsumsi yang tidak mendesak
Teresia menyarankan perubahan kebiasaan konsumsi, misalnya memilih kualitas dibanding kuantitas dengan berinvestasi pada barang yang lebih awet dan memiliki fungsi jangka panjang. Ia juga menganjurkan untuk selalu mempertanyakan apakah suatu pembelian merupakan keinginan atau kebutuhan, terutama untuk barang yang tidak esensial. Kebiasaan ini dinilai dapat membantu menghindari pembelian impulsif yang sering kali tidak diperlukan.
2. Mengurangi aplikasi belanja di ponsel
Meminimalkan platform digital yang berpotensi memicu konsumsi impulsif disebut dapat membantu membentuk pola hidup finansial yang lebih sederhana. Teresia menekankan pentingnya mengurangi kebiasaan membandingkan harga antar platform agar tidak mudah terjebak promosi pemasaran di marketplace yang pada akhirnya hanya meningkatkan perilaku konsumtif.
Selain itu, ia menyarankan agar konsumsi dipertimbangkan untuk diarahkan pada hal yang memberikan pengalaman, bukan semata material. Menurutnya, berinvestasi pada pengalaman dapat meningkatkan kesejahteraan, berbeda dengan barang yang nilainya bisa turun atau akhirnya hanya menumpuk.
3. Merinci biaya pengeluaran tetap
Langkah berikutnya adalah merinci pengeluaran tetap dan prioritas utama, seperti sewa rumah beserta kebutuhan pendukungnya, serta biaya rutin seperti listrik, air, gas, internet, belanja kebutuhan rumah tangga bulanan, asuransi, dan transportasi.
Untuk mengurangi pengeluaran impulsif, Teresia menyarankan penggunaan layanan auto-debet untuk sejumlah biaya dasar yang wajib dibayar setiap bulan, misalnya cicilan mobil atau rumah, asuransi, tabungan deposito, atau biaya investasi. Dengan cara ini, pengeluaran nonprioritas harian dapat lebih dibatasi.
Setelah seluruh biaya dihitung, ia menyarankan menambahkan 10% dari total biaya untuk kebutuhan tak terduga. Dalam perhitungan tersebut, ia menekankan agar tidak memasukkan alokasi hiburan seperti makan di luar atau belanja di luar kebutuhan esensial.
Angka yang sudah ditetapkan kemudian dijadikan acuan hidup setiap bulan. Artinya, pemasukan perlu dipastikan dapat menutup bujet prioritas utama terlebih dahulu sebelum pengeluaran lain dipertimbangkan.