Harga emas (XAU/USD) melanjutkan penguatan tajam setelah pada sesi sebelumnya mencatat kenaikan lebih dari 2%. Pada perdagangan Selasa, emas kembali menorehkan rekor tertinggi baru untuk hari kedua berturut-turut dan sempat mendekati level psikologis 4.500 dolar AS pada sesi Asia.
Kenaikan ini didukung kombinasi faktor fundamental, termasuk melemahnya dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent turut menambah keraguan pasar terhadap kredibilitas kebijakan jangka panjang Federal Reserve (The Fed). Bersamaan dengan ekspektasi pasar terhadap sikap The Fed yang lebih dovish, kondisi tersebut menekan dolar dan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Dalam sebuah podcast, Bessent membuka peluang peninjauan ulang kerangka inflasi The Fed. Ia menyebut lebih menyukai konsep kisaran inflasi ketimbang target tunggal yang tetap. Bessent juga menyampaikan bahwa ketua The Fed yang baru dapat mempertimbangkan untuk menghapus dot plot, yang akan menjadi perubahan besar dalam cara bank sentral mengomunikasikan prospek kebijakannya. Di saat yang sama, pasar masih memprakirakan peluang lebih besar untuk dua kali penurunan suku bunga lagi oleh bank sentral AS, sehingga dolar melemah untuk hari kedua berturut-turut dan mendorong arus ke emas.
Dari sisi geopolitik, sejumlah perkembangan turut memperkuat permintaan aset safe haven. Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade terhadap tanker minyak yang dikenai sanksi yang masuk atau keluar dari Venezuela sebagai bagian dari upaya memperketat tekanan ekonomi terhadap Presiden Nicolás Maduro. AS dilaporkan menyita sebuah tanker besar pada 10 Desember, mencegat kapal kedua pada akhir pekan, dan mengejar tanker ketiga. Situasi tersebut meningkatkan risiko eskalasi ketegangan di kawasan.
Selain itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan ia tidak memiliki keyakinan bahwa akan ada solusi damai untuk perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun. Risiko geopolitik juga disebut tetap tinggi seiring kemungkinan serangan Israel lainnya terhadap Iran.
Meski sentimen di pasar ekuitas secara umum cenderung positif, dukungan fundamental terhadap emas dinilai cukup kuat sehingga arah pergerakan yang lebih mungkin tetap ke atas. Pelaku pasar kini menanti agenda data ekonomi AS, termasuk rilis laporan PDB kuartal III serta data pesanan barang tahan lama yang sebelumnya tertunda pada sesi Amerika Utara. Komentar dari pejabat-pejabat FOMC juga berpotensi memengaruhi permintaan dolar dan memunculkan peluang pergerakan jangka pendek pada XAU/USD, terutama di tengah likuiditas yang menipis menjelang akhir tahun. Namun, kondisi jenuh beli pada grafik jangka pendek membuat pasar perlu mewaspadai potensi jeda kenaikan.
Dari sisi teknikal, penembusan di atas area 4.375–4.380 dolar AS yang merupakan puncak sepanjang masa sebelumnya, serta pergerakan lanjut di atas 4.400 dolar AS, dipandang sebagai pemicu baru bagi pembeli. Simple Moving Average (SMA) 50 hari masih menanjak dan menguatkan tren naik, dengan harga bertahan di atas SMA yang berada di sekitar 4.160 dolar AS dan berpotensi menjadi support dinamis. Indikator MACD berada di wilayah positif dan di atas garis sinyal, mengindikasikan momentum bullish yang menguat. Sementara itu, RSI berada di level 81 yang menandakan jenuh beli, sehingga kenaikan bisa terbatas dan membuka peluang konsolidasi atau koreksi dangkal.
Secara umum, momentum emas masih kuat dengan tren naik yang tetap terjaga. Meski demikian, pendinginan pergerakan dalam jangka pendek dapat terjadi tanpa mengubah bias bullish yang lebih luas, selama harga mampu bertahan di atas area support utama.

