BERITA TERKINI
IEA: Krisis Energi Global Terburuk dalam Sejarah Modern, Gangguan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan

IEA: Krisis Energi Global Terburuk dalam Sejarah Modern, Gangguan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan krisis energi global saat ini telah memasuki fase paling kritis dan disebut sebagai yang terparah dalam sejarah modern. Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz memicu ketidakpastian pasokan energi dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Selat Hormuz menjadi sorotan karena perannya yang sangat penting dalam perdagangan energi global. Jalur maritim strategis ini disebut dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak laut dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi langsung memengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi internasional.

Situasi terkini dibandingkan dengan sejumlah krisis energi besar di masa lalu, termasuk krisis 1973 akibat embargo OPEC, krisis 1979 yang terkait Revolusi Iran, serta gangguan pasokan pada 2002. Namun, kepala IEA menilai kompleksitas dan tingkat keparahan krisis sekarang melampaui preseden tersebut.

Dalam penjelasan yang disampaikan, beberapa faktor disebut ikut memperburuk kondisi, antara lain meningkatnya ketegangan geopolitik, investasi energi terbarukan yang dinilai belum mencukupi, serta tingginya ketergantungan global pada pasokan dari wilayah yang rawan konflik. Kombinasi faktor itu dinilai tidak hanya mengancam stabilitas harga energi, tetapi juga berisiko memicu tekanan ekonomi hingga resesi di negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Dampak gangguan Selat Hormuz disebut sudah tercermin pada meningkatnya volatilitas pasar energi internasional. Harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi tajam, yang menimbulkan ketidakpastian dalam perencanaan anggaran negara-negara importir, termasuk Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara. Sejumlah sektor seperti transportasi, manufaktur, dan pembangkitan listrik disebut menjadi yang paling terdampak.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah negara mulai mengalihkan perhatian ke sumber energi alternatif. Namun, transisi ini disebut membutuhkan waktu serta investasi besar sehingga tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan energi global juga dilaporkan tengah mengevaluasi ulang strategi operasional untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan yang lebih serius.

IEA mendorong langkah mitigasi dan adaptasi sebagai prioritas. Rekomendasi yang disampaikan mencakup diversifikasi sumber energi, peningkatan efisiensi energi, serta percepatan transisi ke energi terbarukan sebagai strategi jangka menengah dan panjang. Sejumlah negara yang memiliki cadangan energi strategis juga mulai mempertimbangkan pelepasan sebagian cadangan untuk membantu menstabilkan pasar.

Selain itu, diplomasi multilateral dinilai semakin penting untuk meredakan ketegangan geopolitik yang disebut menjadi akar persoalan. Bagi Indonesia, situasi ini kembali menegaskan pentingnya memperkuat pengembangan sumber energi domestik dan meningkatkan investasi pada energi terbarukan guna mengurangi kerentanan terhadap krisis energi global.