WASHINGTON. International Monetary Fund (IMF), World Bank Group, dan International Energy Agency (IEA) meningkatkan koordinasi untuk merespons dampak ekonomi perang Iran. Langkah bersama ini menjadi sinyal bahwa gejolak yang terjadi dinilai bukan sekadar konflik kawasan, melainkan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.
Dalam pernyataan bersama yang dikutip Reuters pada 2 April, ketiga lembaga sepakat untuk berbagi data, menyelaraskan rekomendasi kebijakan, serta menggalang dukungan bagi negara-negara yang paling terdampak. Mereka juga mulai menghitung kebutuhan pembiayaan yang diperkirakan dapat meningkat, terutama di negara berkembang yang ruang fiskalnya sudah terbatas.
Di balik koordinasi tersebut, tersimpan kekhawatiran bahwa dampak krisis tidak akan merata. Negara pengimpor energi, khususnya yang berpendapatan rendah, disebut sebagai pihak yang paling rentan. Para pimpinan lembaga itu memperingatkan dampak konflik bersifat “signifikan, global, dan sangat asimetris.”
Lonjakan harga energi menjadi sumber tekanan utama. Harga minyak Brent yang bertahan di kisaran US$ 100 per barel disebut telah naik sekitar 40% sejak eskalasi konflik pada akhir Februari. Kenaikan ini menjadi pukulan bagi negara yang bergantung pada impor energi karena tidak hanya mendorong biaya produksi, tetapi juga mempersempit ruang kebijakan moneter di tengah risiko inflasi yang kembali menguat.
Efek rambatan dinilai cepat terasa. Rantai pasok global kembali terguncang, termasuk untuk komoditas strategis seperti helium, fosfat, dan aluminium. Sektor penerbangan juga ikut terdampak, menambah tekanan di tengah pemulihan ekonomi yang belum sepenuhnya solid.
Tekanan turut merembet ke sektor lain. Kenaikan harga pupuk dan pangan mulai menekan negara-negara dari Timur Tengah hingga Amerika Latin. IMF bahkan mengingatkan potensi munculnya krisis pangan baru, terutama bagi negara berpendapatan rendah. Gangguan pasokan nutrisi tanaman dari kawasan Teluk terjadi pada periode krusial, yakni awal musim tanam di belahan bumi utara, yang berpotensi memengaruhi hasil panen sepanjang tahun.
Situasi ini menempatkan banyak negara pada pilihan sulit antara menjaga stabilitas harga dan mempertahankan pertumbuhan. Tanpa dukungan pembiayaan tambahan, risiko pelemahan ekonomi hingga instabilitas sosial disebut bukan hal yang berlebihan.
Ke depan, perang Iran dan dampaknya dipastikan menjadi agenda utama dalam pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia pada 13–18 April. Forum tersebut akan menjadi ujian apakah koordinasi global mampu bergerak lebih cepat dibanding eskalasi krisis, atau kembali tertinggal seperti pada guncangan sebelumnya.

